mengapa engkau selalu ingin mengeluh?
bismillahirahmanirahim
temonsoejadi - sahabatku semua yang dirahmati Allah. setiap orang pernah
mengeluh, tapi terkadang ada diantara kita yang frekuensi mengeluhnya terlalu
sering. TAPI…. tanpa kita sadari kita sering
mengukur diri kita dengan membandingkan ke atas bukan ke bawah, sehingga kita
sering mengeluh. Mungkin saatnyalah untuk menunduk kebawah melihat betapa
banyak orang yang tidak seberuntung kita.
bener gak kawan ?
Kehidupan bukanlah jalan yang
lurus dan mudah dilalui
di mana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan… Kehidupan seringkali berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, di mana kita harus mencari jalan, tersesat dan bingung! Sering rasanya sampai pada jalan tak berujung... Namun, jika kita punya keyakinan Kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita… Mungkin bukan pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya akan terbukti, terbaik untuk kita!
sebuah kisah
yang cukup menarik dibaca…. semoga dapat diambil manfaatnya,
Suatu
kesempatan datang seorang ikhwah menghampiri, “Kak saya punya banyak masalah
nih” sembari menunjukkan mimik pesimis. “Ya, kenapa masalah sampai harus
pusing?” kataku memulai pembicaraan.
“Gimana kak,
anak-anak santri saya banyak yang mengeluh. Materi terlalu banyak, hafalan
sudah menumpuk, belum lagi tugas menagih ”
“Dan termasuk
antum juga yang mengeluh nih!” sindirku.
“Bagaimana
tidak, saya sudah tidak punya semangat lagi mengajar” gerutunya.
“Mungkin antum
tidak menyesuaikan materi , melebihi kapasitas kemampuan mereka”
“Mau diapa
lagi, kita kan mau kejar target”.
“Yah kalau
begitu, ini tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Hanyalah proses. Awalnya
memang banyak mengeluh. Nanti mereka terbiasa sendiri. Nah sekarang, coba
pegang buku kecil ini” tanyaku sambil menyodorkan buku dari tas.
“Gimana? Berat
tidak?”.
“Tidak kak,
ini ringan aja kok!”.
“kalau begitu,
coba antum pegang, tahan sampai dua menit”.
“Agak lebih
berat kak”.
“Sekarang
tahan selama lima menit”.
“Huft saya
nggak bisa, beratnya bertambah”.
“Sehari..
sepekan… sebulan…”.
“Hmm… semakin
berat, saya tidak bisa tahan!!!
“Nah apa
kira-kira yang antum bisa ambil dari kejadian tadi? Buku ini kan beratnya
biasa-biasa saja. Tapi kok tiba-tiba antum nggak bisa tahan beratnya”.
“Menurut saya
semakin lama, semakin berat, ”tandasnya.
“Yah!
Begitulah juga dengan masalah. Sebenarnya permasalahannya sederhana sekali.
Tetapi karena terus dipendam tidak selesai-selesai juga. Akhirnya menjadi berat
beban yang sulit”.
sahabatku yang
dirahmati Allah,
Menurut Steven
R Covey, “Beratnya sebuah
persoalan tidak tergantung kepada besar kecilnya persoalan itu tetapi terletak
pada berapa lama Anda menanggung atau membawa persoalan tersebut, semakin lama
Anda menanggungnya makin semakin beratlah beban hidup Anda”. Maka sebisa
mungkin anda meletakkan masalah, lalu pikirkan solusinya.
Tak ditawar lagi, manusia fitrahnya
memang suka mengeluh.
“Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” (al- Ma’aarij:19). Lanjut ayat
itu, ketika mendapat masalah langsung protes,”Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (al- Ma’aarij:20).
Merasa berkecil hati dengan masalah, “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi
rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“(al-Fajr:16).
Anehnya, ia baru menganggap tidak
punya masalah ketika mendapat kesenangan, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan
diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.( al-Fajr:15).
Padahal, susah senang itu sama-sama
punya masalah. Orang kadang tertipu dengan kesenangan. Kenikmatan dunia buatnya
bukanlah ujian. Segala kondisi kehidupan itu selalu bercengkrama dengan
masalah. Artinya hidup itu memang penuh dengan ujian dan masalah.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (al-Ankabut:2).
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (al-Ankabut:2).
Kita akan selalu diuji untuk
mendapatkan penghargaan ketingkat yang lebih tinggi. Namun perlu diketahui,
ujian yang kita hadapi tidaklah diuji kecuali sesuai kemampuan masing-masing.
Artinya, bagaimanapun masalahnya akan ada solusinya. Kita bisa melewatinya,
Allah tidak begitu saja memberikan reward begitu saja. Harus ada sebabnya.
Disini dilihat bagaimana kita menjalani prosesnya. Hasilnya itu tergantung
kehendakNya. Sekedar mengeluh tanpa memikirkan solusi hanya membuang waktu
saja. Toh masalah tetap akan ada silih berganti.
“Sekarang,
antum pikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang satu juta! Saya beri waktu dua
menit saja. Entah bagaimana yang terlintas dalam pikiranmu” lanjutku.
“Iya kak,
baiklah yang penting halal kan”
“Iya, terserah
caranya bagaimana, selesai?”
“Iya sudah
kepikir”
“Nah periksa
kantong antum, berkurang atau bertambah satu juta di dompetnya antum?”
“Tidak, tetap
aja”
“Kenapa bisa,
padahal sedemikian matangnya pemikiran antum”
“Karena saya belum pergi mencarinya!”
Begitulah
gambaran masalah itu. Ternyata, sekedar memikirkan solusinya itu tidak cukup.
Berbicara tentang perubahan tanpa tindakan, tidak akan pernah terjadi
perubahan. Kita harus melakukannya. Sekedar mengilmui tidaklah cukup, kita
harus mengamalkan serta mendakwahkan.
Mengeluh memang sesuatu yang wajar,
tetapi juga harus sesuai kadarnya. Jangan sampai kita hanya berkeluh kesah
tanpa ada perubahan tindakan. Mengeluh pada yang Maha Besar, betapa kecilnya
masalah itu di depanNya. Sampai-sampai seorang sahabat Rasululah ketika
sendalnya hilang, bukannya langsung mengeluhkan pada manusia. Justru ia berdo’a
dulu kepada Allah, lalu pergi mencarinya.
..
MENGELUH, ITU
MANUSIAWI..
TETAPI TERLALU
BANYAK MENGELUH, ITU “WATAK” NAMANYA…
MENGELUH TIDAK
AKAN MENYELESAIKAN MASALAH….
DAN JANGANLAH
SUKA MENGELUH DI FACEBOOK, KARENA HANYA AKAN MEMPERPARAH KEADAAN. SERTA
MENULARKAN AURA GELAP KE SIDANG PEMBACA… YANG AKAN MEMADAMKAN CAHAYA HATI MEREKA….
Sahabat….
Selembar kertas putih di atas meja…… disebut selembar kertas….
Selembar kertas putih di atas meja…… disebut selembar kertas….
Selembar
kertas di tong sampah…… disebut sampah…
Beda tempat,
beda makna, beda nasib….
Kita bukan
kertas….
Yang tidak
mampu memilih tempat kita berada…
Kita adalah
manusia merdeka, yang bebas untuk berhijrah…
Kita bukan
kertas….
Yang maknanya
tergantung pd orang lain yg memberi makna…
Kita adalah
manusia merdeka, yg bebas memberi makna akan diri kita…..
BEDA MAKNA,
BEDA NASIB…
MAKNA=NASIB
MAMPU MENGUBAH MAKNA = MAMPU MENGUBAH NASIB….
MAMPU MENGUBAH MAKNA = MAMPU MENGUBAH NASIB….
HIDUP ITU
SEDERHANA, BUKAN…..???
Sahabat..
Mengeluh sejatinya perwujudan dari rasa tidak puas, tidak ikhlas menerima sebuah ketentuan yang terjadi, baik dari segi materi dan non materi.
Mengeluh sejatinya perwujudan dari rasa tidak puas, tidak ikhlas menerima sebuah ketentuan yang terjadi, baik dari segi materi dan non materi.
Sahabat..
Sesungguhnya Allah SWT menyukai hamba yang senantiasa bersyukur dengan segala ketentuan dan bersabar ketika ditimpa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.
Sesungguhnya Allah SWT menyukai hamba yang senantiasa bersyukur dengan segala ketentuan dan bersabar ketika ditimpa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.
“Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya” (Qs
An-Nahl 18).
Ketika
seseorang hanyut dalam keluhan, pancainderanya pun tak mampu lagi memainkan
perannya untuk melihat, mendengar, mencium dan merasakan nikmat yang bertebaran
diberikan oleh Allah SWT tak henti-hentinya.
Hatinya serta
merta buta dari mengingat dan bersyukur atas nikmat Allah yang tiada terbatas.
Itulah sifat manusia yang selalu mempunyai keinginan yang tidak terbatas dan
tidak pernah puas atas pemberian Allah kecuali hamba-hamba yang bersyukur
Sebaiknya,
mengeluhlah hanya kepada Allah SWT, karena sesungguhnya semua kejadian sudah
menjadi sebuah ketentuan-Nya dan hanya Dia-lah sebaik-baik pemberi solusi.
Jika ada niat
dan tekad dengan sungguh-sungguh, insya Allah ikhlas dan sabar akan menjadi
perhiasan yang akan mewarnai akhlak kita sehari-hari dan kita dihindarkan dari
lisan dan sikap yang sering berkeluh-kesah.
Rasa syukur
membuat hidup kita indah,
Rasa syukur
membuat yang sedikit terasa cukup,
Rasa syukur
mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup dan berharga,
Rasa syukur
mengubah masalah yang kita hadapi menjadi hikmah yang bernilai,
Rasa syukur
mengubah makanan biasa terasa menjadi istimewa,
Rasa syukur
dapat mengubah rumah yang sempit terasa lapang dan nyaman,
Rasa syukur
mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga,
Rasa syukur
mengubah kekeruhan suasana menjadi kejernihan,
Rasa syukur
membuat sesuatu yang tidak enak menajdi enak,
Rasa syukur
membuat sesuatu penolakan menjadi penerimaan,
Rasa syukur
dapat mengubah rasa benci menjadi kasih sayang,
Rasa syukur
membuat kedamaian di hati kita,
Rasa syukur
menjadikan hari ini terasa damai,
Rasa syukur
membuat masa lalu menjadi kenangan, masa depan adalah harapan,
Ternyata rahasia membuat hidup indah itu hanya rasa syukur dalam hati,
Ternyata rahasia membuat hidup indah itu hanya rasa syukur dalam hati,
Sejatinya sepanjang hidup kita, ada
yang lebih pantas mengeluh. Bekerja tanpa harus berhenti meskipun kita
beristirahat. Dialah jantung kita. Sudah sekian tahun bekerja, 24 jam tanpa
berhenti. Tapi tak pernah juga sekalipun mengeluhkan kerjanya, komplainbarang
sepuluh menit saja sekedar istirahat.
Begitulah kehidupan, penuh dengan
masalah. Tak harus membuat kita selalu ingin mengeluh. Meskipun kita tak ingin
selalu dihimpit masalah. Ketahuilah! mungkin hari ini kita didera masalah
besar. tetapi boleh jadi orang-orang dahulu masalahnya jauh lebih besar. ada
orang lebih parah dari kita. Dahulu orang harus dibelah dua badannya untuk
mempertahankan akidah. Kita mungkin cuma kendaraan mogok atau jalan macet,
terpaksa mengeluh karena harus jalan kaki. Padahal dahulu orang mungkin harus
berjalan kaki seharian di tengah padang pasir terik matahari.
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..” (al-Baqarah:185)
Kita kadang tidak sadar begitu banyak
nikmat Allah yang dikaruniakan. Solusinya cuma mengeluh saja. Sementara lupa
untuk selalu bersyukur. “Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Alam Nasyrah:5).
sahabatku semua yang dirahmati Allah,
Pengalaman adalah
guru yang paling brutal dan kejam. sebuah pengalaman pahit tentunya, namun
berangsur-angsur akan berubah menjadi pengalaman adalah guru yang sangat
berharga, jika akhirnya kebahagiaan menyapa.
sahabatku, Cobalah amati kendaraan
yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik
berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas,
sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar