Menu

  • Daftar Isi
  • Rasulullah
  • Sahabat
  • Nabi & Rasul
  • Ulama'Sholeh
  • Qolbi
  • Akhlaq & Etika
  • Doa & Dzikir
  • Shalawat
  • Ayat & Surat
  • Tentang Rezeqi
  • Tentang Cinta
  • Ttg Keluarga
  • Catatan
  • Cinta Sufi
  • Jumat, 12 Juli 2013

    Bahaya MENGELUH -1-

    mengapa engkau selalu ingin mengeluh? 

    bismillahirahmanirahim
    temonsoejadi - sahabatku semua yang dirahmati Allah. setiap orang pernah mengeluh, tapi terkadang ada diantara kita yang frekuensi mengeluhnya terlalu sering. TAPI…. tanpa kita sadari kita sering mengukur diri kita dengan membandingkan ke atas bukan ke bawah, sehingga kita sering mengeluh. Mungkin saatnyalah untuk menunduk kebawah melihat betapa banyak orang yang tidak seberuntung kita.
    bener gak kawan ?
    Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui di mana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan… Kehidupan seringkali berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, di mana kita harus mencari jalan, tersesat dan bingung! Sering rasanya sampai pada jalan tak berujung... Namun, jika kita punya keyakinan Kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita… Mungkin bukan pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya akan terbukti, terbaik untuk kita!

    sebuah kisah yang cukup menarik dibaca…. semoga dapat diambil manfaatnya,
    Suatu kesempatan datang seorang ikhwah menghampiri, “Kak saya punya banyak masalah nih” sembari menunjukkan mimik pesimis. “Ya, kenapa masalah sampai harus pusing?” kataku memulai pembicaraan.
    “Gimana kak, anak-anak santri saya banyak yang mengeluh. Materi terlalu banyak, hafalan sudah menumpuk, belum lagi tugas menagih ”
    “Dan termasuk antum juga yang mengeluh nih!” sindirku.
    “Bagaimana tidak, saya sudah tidak punya semangat lagi mengajar” gerutunya.
    “Mungkin antum tidak menyesuaikan materi , melebihi kapasitas kemampuan mereka”
    “Mau diapa lagi, kita kan mau kejar target”.
    “Yah kalau begitu, ini tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Hanyalah proses. Awalnya memang banyak mengeluh. Nanti mereka terbiasa sendiri. Nah sekarang, coba pegang buku kecil ini”   tanyaku sambil menyodorkan buku dari tas.
    “Gimana? Berat tidak?”.
    “Tidak kak, ini ringan aja kok!”.
    “kalau begitu, coba antum pegang, tahan sampai dua menit”.
    “Agak lebih berat kak”.
    “Sekarang tahan selama lima menit”.
    “Huft saya nggak bisa, beratnya bertambah”.
    “Sehari.. sepekan… sebulan…”.
    “Hmm… semakin berat, saya tidak bisa tahan!!!
    “Nah apa kira-kira yang antum bisa ambil dari kejadian tadi? Buku ini kan beratnya biasa-biasa saja. Tapi kok tiba-tiba antum nggak bisa tahan beratnya”.
    “Menurut saya semakin lama, semakin berat, ”tandasnya.
    “Yah! Begitulah juga dengan masalah. Sebenarnya permasalahannya sederhana sekali. Tetapi karena terus dipendam tidak selesai-selesai juga. Akhirnya menjadi berat beban yang sulit”.

    sahabatku yang dirahmati Allah,
    Menurut Steven R Covey, Beratnya sebuah persoalan tidak tergantung kepada besar kecilnya persoalan itu tetapi terletak pada berapa lama Anda menanggung atau membawa persoalan tersebut, semakin lama Anda menanggungnya makin semakin beratlah beban hidup Anda”. Maka sebisa mungkin anda meletakkan masalah, lalu pikirkan solusinya.
    Tak ditawar lagi, manusia fitrahnya memang suka mengeluh.
     Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (al- Ma’aarij:19). Lanjut ayat itu, ketika mendapat masalah langsung protes,”Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah(al- Ma’aarij:20).
    Merasa berkecil hati dengan masalah, “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“(al-Fajr:16).
    Anehnya, ia baru menganggap tidak punya masalah ketika mendapat kesenangan, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.( al-Fajr:15).
    Padahal, susah senang itu sama-sama punya masalah. Orang kadang tertipu dengan kesenangan. Kenikmatan dunia buatnya bukanlah ujian. Segala kondisi kehidupan itu selalu bercengkrama dengan masalah. Artinya hidup itu memang penuh dengan ujian dan masalah.
    Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (al-Ankabut:2).
    Kita akan selalu diuji untuk mendapatkan penghargaan ketingkat yang lebih tinggi. Namun perlu diketahui, ujian yang kita hadapi tidaklah diuji kecuali sesuai kemampuan masing-masing. Artinya, bagaimanapun masalahnya akan ada solusinya. Kita bisa melewatinya, Allah tidak begitu saja memberikan reward begitu saja. Harus ada sebabnya. Disini dilihat bagaimana kita menjalani prosesnya. Hasilnya itu tergantung kehendakNya. Sekedar mengeluh tanpa memikirkan solusi hanya membuang waktu saja. Toh masalah tetap akan ada silih berganti.
    “Sekarang, antum pikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang satu juta! Saya beri waktu dua menit saja. Entah bagaimana yang terlintas dalam pikiranmu” lanjutku.
    “Iya kak, baiklah yang penting halal kan”
    “Iya, terserah caranya bagaimana, selesai?”
    “Iya sudah kepikir”
    “Nah periksa kantong antum, berkurang atau bertambah satu juta di dompetnya antum?”
    “Tidak, tetap aja”
    “Kenapa bisa, padahal sedemikian matangnya pemikiran antum”

    “Karena saya belum pergi mencarinya!”
    Begitulah gambaran masalah itu. Ternyata, sekedar memikirkan solusinya itu tidak cukup. Berbicara tentang perubahan tanpa tindakan, tidak akan pernah terjadi perubahan. Kita harus melakukannya. Sekedar mengilmui tidaklah cukup, kita harus mengamalkan serta mendakwahkan.
    Mengeluh memang sesuatu yang wajar, tetapi juga harus sesuai kadarnya. Jangan sampai kita hanya berkeluh kesah tanpa ada perubahan tindakan. Mengeluh pada yang Maha Besar, betapa kecilnya masalah itu di depanNya. Sampai-sampai seorang sahabat Rasululah ketika sendalnya hilang, bukannya langsung mengeluhkan pada manusia. Justru ia berdo’a dulu kepada Allah, lalu pergi mencarinya.
    ..
    MENGELUH, ITU MANUSIAWI..
    TETAPI TERLALU BANYAK MENGELUH, ITU “WATAK” NAMANYA…
    MENGELUH TIDAK AKAN MENYELESAIKAN MASALAH….
    DAN JANGANLAH SUKA MENGELUH DI FACEBOOK, KARENA HANYA AKAN MEMPERPARAH KEADAAN. SERTA MENULARKAN AURA GELAP KE SIDANG PEMBACA… YANG AKAN  MEMADAMKAN CAHAYA HATI MEREKA….

    Sahabat….
    Selembar kertas putih di atas meja…… disebut selembar kertas….
    Selembar kertas di tong sampah…… disebut sampah…
    Beda tempat, beda makna, beda nasib….
    Kita bukan kertas….
    Yang tidak mampu memilih tempat kita berada…
    Kita adalah manusia merdeka, yang bebas untuk berhijrah…
    Kita bukan kertas….
    Yang maknanya tergantung pd orang lain yg memberi makna…
    Kita adalah manusia merdeka, yg bebas memberi makna akan diri kita…..
    BEDA MAKNA, BEDA NASIB…
    MAKNA=NASIB
    MAMPU MENGUBAH MAKNA = MAMPU MENGUBAH NASIB….
    HIDUP ITU SEDERHANA, BUKAN…..???

    Sahabat..
    Mengeluh sejatinya perwujudan dari rasa tidak puas, tidak ikhlas menerima sebuah ketentuan yang terjadi, baik dari segi materi dan non materi.
    Sahabat..
    Sesungguhnya Allah SWT menyukai hamba yang senantiasa bersyukur dengan segala ketentuan dan bersabar ketika ditimpa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.
    “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya” (Qs An-Nahl 18).
    Ketika seseorang hanyut dalam keluhan, pancainderanya pun tak mampu lagi memainkan perannya untuk melihat, mendengar, mencium dan merasakan nikmat yang bertebaran diberikan oleh Allah SWT tak henti-hentinya.
    Hatinya serta merta buta dari mengingat dan bersyukur atas nikmat Allah yang tiada terbatas. Itulah sifat manusia yang selalu mempunyai keinginan yang tidak terbatas dan tidak pernah puas atas pemberian Allah kecuali hamba-hamba yang bersyukur
    Sebaiknya, mengeluhlah hanya kepada Allah SWT, karena sesungguhnya semua kejadian sudah menjadi sebuah ketentuan-Nya dan hanya Dia-lah sebaik-baik pemberi solusi.
    Jika ada niat dan tekad dengan sungguh-sungguh, insya Allah ikhlas dan sabar akan menjadi perhiasan yang akan mewarnai akhlak kita sehari-hari dan kita dihindarkan dari lisan dan sikap yang sering berkeluh-kesah.

    Rasa syukur membuat hidup kita indah,
    Rasa syukur membuat yang sedikit terasa cukup,
    Rasa syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup dan berharga,
    Rasa syukur mengubah masalah yang kita hadapi menjadi hikmah yang bernilai,
    Rasa syukur mengubah makanan biasa terasa menjadi istimewa,
    Rasa syukur dapat mengubah rumah yang sempit terasa lapang dan nyaman,
    Rasa syukur mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga,
    Rasa syukur mengubah kekeruhan suasana menjadi kejernihan,
    Rasa syukur membuat sesuatu yang tidak enak menajdi enak,
    Rasa syukur membuat sesuatu penolakan menjadi penerimaan,
    Rasa syukur dapat mengubah rasa benci menjadi kasih sayang,
    Rasa syukur membuat kedamaian di hati kita,
    Rasa syukur menjadikan hari ini terasa damai,
    Rasa syukur membuat masa lalu menjadi kenangan, masa depan adalah harapan,
    Ternyata rahasia membuat hidup indah itu hanya rasa syukur dalam hati,
    Sejatinya sepanjang hidup kita, ada yang lebih pantas mengeluh. Bekerja tanpa harus berhenti meskipun kita beristirahat. Dialah jantung kita. Sudah sekian tahun bekerja, 24 jam tanpa berhenti. Tapi tak pernah juga sekalipun mengeluhkan kerjanya, komplainbarang sepuluh menit saja sekedar istirahat.
    Begitulah kehidupan, penuh dengan masalah. Tak harus membuat kita selalu ingin mengeluh. Meskipun kita tak ingin selalu dihimpit masalah. Ketahuilah! mungkin hari ini kita didera masalah besar. tetapi boleh jadi orang-orang dahulu masalahnya jauh lebih besar. ada orang lebih parah dari kita. Dahulu orang harus dibelah dua badannya untuk mempertahankan akidah. Kita mungkin cuma kendaraan mogok atau jalan macet, terpaksa mengeluh karena harus jalan kaki. Padahal dahulu orang mungkin harus berjalan kaki seharian di tengah padang pasir terik matahari.

    “…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..” (al-Baqarah:185)
    Kita kadang tidak sadar begitu banyak nikmat Allah yang dikaruniakan. Solusinya cuma mengeluh saja. Sementara lupa untuk selalu bersyukur. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Alam Nasyrah:5).

    sahabatku semua yang dirahmati Allah,
    Pengalaman adalah guru yang paling brutal dan kejam. sebuah pengalaman pahit tentunya, namun berangsur-angsur akan berubah menjadi pengalaman adalah guru yang sangat berharga, jika akhirnya kebahagiaan menyapa.

    sahabatku, Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.

    20 Oktober 2012 

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Ajine Diri Soko Lati (Kemuliaan Diri dari Lidahnya). Ajine Jiwo Soko Toto (Kemuliaan Jiwa dari penyunciannya). Ajine Rogo Soko Busono (Kemuliaan Jasmani dari Pakaiannya). Ajine Pangan Soko Roso (Kemuliaan pangan dari Rasanya). Ajine Harta Soko Amal (Kemuliaan harta dari Amalnya).

--------------------------------------------------------------------------------------------------------