Menu

  • Daftar Isi
  • Rasulullah
  • Sahabat
  • Nabi & Rasul
  • Ulama'Sholeh
  • Qolbi
  • Akhlaq & Etika
  • Doa & Dzikir
  • Shalawat
  • Ayat & Surat
  • Tentang Rezeqi
  • Tentang Cinta
  • Ttg Keluarga
  • Catatan
  • Cinta Sufi
  • Sabtu, 13 Juli 2013

    Bila Diri Sempit Hati

    Semoga ALLAH SWT senantiasa memberikan kepada kita hati yang lapang, yang  jernih, karena ternyata berat sekali menghadapi hidup dengan hati yang sempit. 

    Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas membentang,  walaupun ada anjing, ada ular, ada kalajengking, dan ada aneka binatang buas  lainnya, pastilah lapangan akan tetap luas. Aneka binatang buas yang ada malah  makin nampak kecil dibandingkan dengan luasnya lapangan. Sebaliknya, hati yang  sempit dapat diibaratkan ketika kita berada di sebuah kamar mandi yang sempit,  baru berdua dengan tikus saja, pasti jadi masalah. Belum lagi jika dimasukkan  anjing, singa, atau harimau yang sedang lapar, pastilah akan lebih bermasalah  lagi.

    Entah mengapa kita sering terjebak dalam pikiran yang membuat  hari-hari kita menjadi hari-hari yang tidak nyaman, yang membuat pikiran kita  menjadi keruh, penuh rencana-rencana buruk. Waktu demi waktu yang dilalui sering  kali diwarnai kondisi hati yang mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan,  terkadang kebencian, bahkan lagi dendam kesumat. Capek rasanya. Menjelang tidur,  otak berpikir keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan  kedendaman yang ada di lubuk hatinya agar habis tandas terpuaskan kepada yang  dibencinya. Hari-harinya adalah hari uring-uringan makan tak enak, tidur tak  nyenyak dikarenakan seluruh konsentrasi dan energinya difokuskan untuk memuaskan  rasa bencinya ini.

    Ah, sahabat. Sungguh alangkah menderitanya  orang-orang yang disiksa oleh kesempitan hati. Dia akan mudah sekali  tersinggung, dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tidak termaafkan, kecuali  sudah terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggungnya menderita, sengsara,  atau tidak berdaya.

    Seringkali kita dengar orang-orang yang dililit  derita akibat rasa bencinya. Padahal ternyata yang dicontohkan para rasul, para  nabi, para ulama yang ikhlas, orang-orang yang berjiwa besar, bukanlah  mencontohkan mendendam, membenci atau busuk hati. Yang dicontohkan mereka justru  pribadi-pribadi yang berdiri kokoh bagai tembok, tegar, sama sekali tidak  terpancing oleh caci maki, cemooh, benci, dendam, dan perilaku-perilaku rendah  lainnya. Sungguh, pribadinya bagai pohon yang akarnya menghunjam ke dalam tanah,  begitu kokoh dan kuat, hingga diterpa badai dan diterjang topan sekalipun, tetap  mantap tak bergeming.

    Tapi orang-orang yang lemah, hanya dengan  perkara-perkara remeh sekalipun, sudah panik, amarah membara, dan dendam  kesumat. Walaupun non muslim, kita bisa mengambil pelajaran dari Abraham Lincoln  (mantan Presiden Amerika). Dia bila memilih pejabat tidak pernah memusingkan  kalau pejabat yang dipilihnya itu suka atau tidak pada dirinya, yang dia  pikirkan adalah apakah pejabat itu bisa melaksanakan tugas dengan baik atau  tidak. Beberapa orang kawan dan lawan politiknya tentu saja memanfaatkan moment  ini untuk menghina, mencela, dan bahkan menjatuhkannya, tapi ia terus tidak  bergeming bahkan berkata dengan arifnya,

    "Kita ini adalah anak-anak dari  keadaan, walau kita berbuat kebaikan bagaimanapun juga, tetap saja akan ada  orang yang mencela dan menghina. Karena pencelaan, penghinaan bukan selamanya  karena kita ini tercela atau terhina. Pastilah dalam kehidupan ini ada saja  manusia yang suka menghina dan mencela".
    Jadi, ia tidak pusing dengan hinaan  dan celaan orang lain. Nabi Muhammad, SAW, manusia yang sempurna, tetap saja  pernah dihina, dicela, dan dilecehkan. Bagaimana mungkin model kita ini, tidak  ada yang menghina ? Padahal kita ini hina betulan.

    Ingatlah bahwa hidup  kita di dunia ini hanya satu kali, sebentar dan belum tentu panjang umur, amat  rugi jikalau kita tidak bisa menjaga suasana hati ini. Camkanlah bahwa kekayaan  yang paling mahal dalam mengarungi kehidupan ini adalah suasana hati kita ini.  Walaupun rumah kita sempit, tapi kalau hati kita 'plooong' lapang akan terasa  luas. Walaupun tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita ceria, sehat, akan terasa  enak. Walaupun badan kita lemes, tapi kalau hati kita tegar, akan terasa mantap.  Walaupun mobil kita merek murahan, motor kita modelnya sederhana, tapi kalau  hati kita indah, akan tetap terhormat. Walaupun kulit kita kehitam-hitaman, tapi  kalau batinnya jelita, akan tetap mulia. Sebaliknya, apa artinya rumah yang  lapang kalau hatinya sempit?! Apa artinya Fried Chicken, Burger, Hoka-hoka  Bento, dan segala makanan enak lainnya, kalau hati sedang membara ?! Apa artinya  raungan ber-AC kalau hati mendidih ?! Apa artinya mobil BMW, kalau hatinya  bangsat ?!

    Lalu, bagaimana cara kita mengatasi perasaan-perasaan seperti  ini ? Yang pertama harus kita kondisikan dalam hati ini adalah kita harus  sangat siap untuk terkecewakan, karena hidup ini tidak akan selamanya sesuai  dengan keinginan kita. Artinya, kita harus siap oleh situasi dan kondisi apapun,  tidak boleh kita hanya siap dengan situasi yang enak saja. Kita harus sangat  siap dengan situasi dan kondisi sesulit, sepahit dan setidak enak apapun.  Seperti pepatah mengatakan, 'sedia payung sebelum hujan'. Artinya, hujan atau  tidak hujan kita siap.

    Hal kedua yang harus kita lakukan kalau  toh ada orang yang mengecewakan kita, adalah dengan jangan terlalu ambil pusing,  sebab kita akan jadi rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja. Yang  membagikan rizki adalah ALLAH, yang mengangkat derajat adalah ALLAH, yang  menghinakan juga ALLAH. Apa perlunya kita pusing dengan omongan orang, sampai  'doer' itu bibir menghina kita, sungguh tidak akan kurang permberian ALLAH  kepada kita. Mati-matian ia menghina, yakinlah kita tidak akan hina dengan  penghinaan orang. Kita itu hina karena kelakuan hina kita sendiri.

    Nabi  SAW, dihina, tapi toh tetap cemerlang bagai intan mutiara. Sedangkan yang  menghinanya, Abu Jahal sengsara. Salman Rushdie ngumpet tidak bisa kemana-mana,  Permadi, Arswendo Atmowiloto masuk penjara. Siapa yang menabur angin akan menuai  badai. Dikisahkan ketika Nabi Isa as dihina, ia tetap senyum, tenang, dan  mantap, tidak sedikitpun ia menjawab atau membalas dengan kata-kata kotor  mengiris tajam seperti yang diucapkan si penghinanya. Ketika ditanya oleh  sahabat-sahabatnya, "Ya Rabi (Guru), kenapa engkau tidak menjawab dengan  kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah Baginda menjawab dengan kebaikan  ?" Nabi Isa as, menjawab : "Karena setiap orang akan menafkahkan apa yang  dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah  keburukan, kalau yang kita miliki kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga  kata-kata yang mulia."

    Sungguh, seseorang itu akan menafkahkan apa-apa  yang dimilikinya. Ketika Ahnaf bin Qais dimaki-maki seseorang menjelang masuk ke  kampungnya, "Hai kamu bodoh, gila, kurang ajar!", Ahnaf bin Qais malah menjawab,  "Sudah ? Masih ada yang lain yang akan disampaikan ? Sebentar lagi saya masuk ke  kampung Saya, kalau nanti di dengar oleh orang-orang sekampung, mungkin nanti  mereka akan dan mengeroyokmu. Ayo, kalau masih ada yang disampaikan,  sampaikanlah sekarang !".

    Dikisahkan pula di zaman sahabat, ada  seseorang yang marah-marah kepada seorang sahabat nabi, "Silahkan kalau kamu  ngomong lima patah kata, saya akan jawab dengan 10 patah kata. Kamu ngomong satu  kalimat, saya akan ngomong sepuluh kalimat". Lalu dijawab dengan mantap oleh  sahabat ini, "Kalau engkau ngomong sepuluh kata, saya tidak akan ngomong satu  patah kata pun".

    Oleh karena itu, jangan ambil pusing, janga dipikirin.  Dale Carnegie, dalam sebuah bukunya mengisahkan tentang seekor beruang kutup  yang ganas sekali, selalu main pukul, ada pohon kecil dicerabut, tumbang dan  dihancurkan. Di tengah amukannya, tiba-tiba ada ada seekor binatang kecil yang  lewat di depannya. Anehnya, tidak ia hantam, sehingga mungkin terlintas dalam  benak si beruang ini, "Ah, apa perlunya menghantam yang kecil-kecil, yang tidak  sebanding, yang tidak merugikan kepentingan kita".

    Percayalah, makin  mudah kita tersinggung, apalagi hanya dengan hal-hal yang sepele, akan makin  sengsara hidup ini. Padahal, mau apa hidup pakai sengsara, karena justru kita  harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal, karena  kalau tidak ada yang menghina, menganiaya, atau menyakiti, kapan kita bisa  memaafkan ?


    Nah sahabat. Justru karena ada lawan, ada yang menghina, ada  yang menyakiti kita bisa memaafkan. Kalau dia masih muda, anggap saja mungkin  dia belum tahu bagaimana bersikap kepada yang tua, daripada sebel kepadanya.  Kalau dia masih kanak-kanak, pahami bahwa tata nilai kita dengan dia berbeda,  mana mungkin kita tersinggung oleh anak kecil. Kalau ada orang tua yang memarahi  kita, jangan tersinggung, mungkin dia khilaf, karena terlalu tuanyua. Yang pasti  makin kita pemaaf, makin kita berhati lapang, makin bisa memahami orang lain,  maka akan makin aman dan tenteramlah hidup kita ini, subhanallah.  

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Ajine Diri Soko Lati (Kemuliaan Diri dari Lidahnya). Ajine Jiwo Soko Toto (Kemuliaan Jiwa dari penyunciannya). Ajine Rogo Soko Busono (Kemuliaan Jasmani dari Pakaiannya). Ajine Pangan Soko Roso (Kemuliaan pangan dari Rasanya). Ajine Harta Soko Amal (Kemuliaan harta dari Amalnya).

--------------------------------------------------------------------------------------------------------