Tanggung Jawab Dakwah
Alhamdulillahirabbil ‘alamiin …
Dimulai dengan khutbah masnun yang
pernah dibaca Baginda SAW. Termuat didalamnya beberapa firman Allah SWT yang
bermaksud diantaranya,
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah
kamu kepada Allah SWT akan sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah kamu mati
kecuali kamu benar-benar menjadi seorang muslim yang menyerah diri kepada
Allah.”
“Wahai sekalian manusia bertaqwalah
kamu kepada Tuhan kamu yang menjadikan kamu kepada satu jiwa. Dan
menjadikan daripadanya pasangan kamu, dan daripadanya Allah sebarkan daripada
lelaki dan wanita. Dan takutlah kamu kepada Allah yang kamu minta-meminta
sesama kamu dengan perantaraan tali silaturahim. Sesungguhnya Allah SWT maha
pemerhati keatasmu.”
“Wahai orang yang beriman, bertaqwalah
kamu kepada Allah SWT dan berkatalah perkataan yang betul. Niscaya Allah SWT
akan memperbaiki amalan kamu dan Dia akan mengampuni dosa kamu, dan Allah SWT
maha pengampun lagi maha penyayang. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya
maka sesungguhnya dia mendapat kejayaan yang besar.”
“Wahai orang yang beriman, sahutlah
seruan daripada Allah dan Rasul apabila kedua-duanya menyeru kamu bagi
kehidupan yang baik. Dan Allah SWT menjadi penghalang bagi hati yakni dia
berkuasa diatas hati seseorang hamba, dan takutlah kepada Allah, kepada Azab
yang Allah SWT turunkan bahwa ianya bukan sahaja menimpa kepada orang yang
melakukan kejahatan, tetapi ianya menimpa menyeluruh kepada semua.”
Allah SWT menjadikan kita untuk
mengingati Allah dan bersyukur kepada Allah SWT. Tidak ada apa-apa Allah SWT
menjadikan mahluq ini kecuali supaya ianya berzikir kepada Allah dan mensyukuri
Allah SWT. Lantaran itu Allah SWT berfirman,
“Maka ingatlah Aku, maka niscaya Aku
akan mengingatimu. Dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur
yakni akan nikmat-nikmatKu.”
Di ayat yang lain, Allah SWT
berfirman,
“Sesungguhnya mengingati Allah itu
Maha besar dan Allah mengetahui apa yang kamu lakukan.”
Bahwa apa maksud zikrullah, bahwa Allah
mengingati hambaNya sangat besar, sangat agung, cukuplah kemuliaan, cukuplah
ketinggian bahwa Allah SWT mengingati kita. Allah ingat kita. Apabila kita
mengingati Allah, Allah mengingati kita. Di dalam sepotong hadits qudsi, Nabi
SAW bersabda, Allah berfirman,
“Barangsiapa mengingati Daku di dalam
dirinya seorang diri, maka Aku akan mengingatinya seorang diri di dalam diriKu.
Barangsiapa mengingati Aku di khalayak ramai, maka Aku akan mengingati mereka
di hadapan khalayak para malaikat yang lebih baik daripada mereka.”
Maka cukuplah kemuliaan apabila
seseorang dia menceritakan kebesaran Allah SWT dan majelis ini adalah majelis
zikir, maka dia mesti yaqin apabila dia membesarkan Allah, menyebut Allah SWT
di khalayak ramai maka dia harus yaqin bahwa Allah SWT sedang menyebutnya,
Allah sedang mengingatNya di khayalak para malaikat yang lebih baik daripada
kita semua. Oleh karena itu Umar RA pernah berkata, sesungguhnya aku tahu bila
Allah SWT mengingati daku. Ditanya kepada beliau,” Bila?” Dijawab beliau, “Ketika
aku mengingati Allah SWT, ketika itulah Allah SWT mengingatiku karena firman
Allah SWT, Maka ingatlah Aku, niscaya Aku ingat akan kamu.”
Allah SWT juga ingin meninggikan
Baginda SAW. Allah ingin mengangkat nama Baginda SAW. Maka dimana nama Allah
disebut, maka disitu disebut nama Baginda SAW. Sehingga Allah SWT telah
berfirman di dalam Al-Qur’an. Dan Allah SWT menggunakan Fi’il yang
berulang-ulang, senantiasa ada pembaharuan. Supaya menunjukkan bahwa sentiasa
benda itu berulang-ulang terus bahwa,
“Sesungguhnya Allah dan malaikat
berselawat ke atas Nabi. Wahai orang-orang beriman berselawatlah kepada Nabi
SAW, dan ucapkanlah selamat.”
Dan tuan-tuan yang mulia, setiap kali
Nabi SAW disebut di langit, disebut di bumi, diingat di langit, diingat di
bumi. Maka apabila didengar nama Nabi SAW, maka kita mesti berselawat kepada
Baginda SAW. Karena Baginda SAW bersabda,” Bahwa orang yang kedekut atau kikir
adalah orang yang disebut namaku dihadapannya tetapi dia tidak berselawat
kepadaku.” Apabila kita berselawat kepada Nabi SAW Allah SWT akan mengantar
selawatnya kepada kita sepuluh kali. Selawat Allah SWT adalah rahmat. Dengan
kita beselawat kepada Nabi SAW kita akan mendapat 10 rahmat daripada Allah SWT.
Maka di dalam sepotong hadits yang lain, Nabi SAW bersabda,”Hinalah orang yang
disebut namaku dihadapannya tetapi dia tidak berselawat kepadaku. Maka
tuan-tuan yang mulia, janganlah kita menjadi orang-orang yang bakhil,
orang-orang yang kedekut, sehingga disebut nama Nabi SAW walaupun seribu kali
telah disebut dihadapan kita, kita jangan mengatakan kita sudah berselawat
padanya. Bahkan walaupun 1000 kali kita berselawat lagi dan lagi, setiap
salawat kepada Nabi SAW Allah SWT akan memberikan 10 rahmat kepada kita. Allah
SWT ingin memuliakan Baginda SAW. Maka setiap kali adzan dilaungkan
dimana-mana, begitu selesai satu adzan dilaungkan, dikampung yang berdekatan
akan mula adzannya, habis saja sana, negara yang bersebelahan akan mula
azannya, terus 24 jam sentiasa, disebut nama Allah SWT, disebut nama Nabi SAW.
Bukan setakad itu saja, sejak mana Baginda SAW diutuskan sampai hari kiamat
terus nama Allah dan nama Rasulullah disebut. Tidak shah iman seseorang jika
tidak disebut nama Nabi SAW. Tidak shah Islam seseorang jika tidak disebut nama
Nabi SAW. Dan Allah SWT meninggikan sebutan Nabi SAW bahwa Allah berfirman,
“Bahwasanya ianya adalah sebutan
bagimu dan bagi kaummu yaitu orang yang beriman.”
Semua untuk nabi SAW. Dan kamu akan
ditanya Allah SWT. Dalam surat Al-Isra, Allah SWT mengangkat nama kamu
meninggikan nama kamu. Orang beriman kepada Allah SWT, orang yang menyeru
kepada Allah menyeru kepada Rasulullah SAW Allah muliakan mereka, Allah angkat
mereka. Lantaran itu Nabi SAW telah menasehatkan Muadz bin Jabal ra . Muaz ra.
adalah seorang sahabat yang telah masuk Islam umurnya tidak melampaui 18 tahun.
Dan dia telah mati syahid di Yordan, umurnya 34 tahun. Makna dia 16 tahun
bersama Baginda SAW. Kubur dia di sebelah kubur Abu Ubaidah bin Jarah ra. Nabi
SAW berata, “Abu Ubaidah (ra) adalah orang yang paling amanah dalam umat ini.”
Maka mengenai Muaz bin Jabbal ra, baginda SAW pernah bersabda,”Umat aku yang
paling bijak dan paling alim mengenai halal dan haram adalah Muaz bin Jabbal
(ra).”
Umar ra pernah berkata,”Kalaulah aku
melantik Muaz bin Jabal (ra) sebagai penggantiku maka kalau Allah SWT tanyaku
mengapa kamu melantik dia sebagai penggantimu, maka sudah tentu aku akan jawab
kepada Allah SWT karena aku dengar Rasulullah SAW bersabda orang yang paling
alim di kalangan umat ini dengan perkara halal dan haram adalah Muadz bin jabal
(ra).”
Kalau kita lihat mengapa dia telah
mencapai kedudukan begitu tinggi. Dari mana, dari universiti mana dia telah
keluar, dari mana dia belajar. Masa 16 tahun, dan begitu muda dia meninggal
dunia, tetapi dia telah mencapai ketinggian ilmu agama. Dan sabda Nabi SAW,
apabila Allah SWT mengumpulkan para alim ulama di akherat nanti maka Muadz bin
Jabbal ra. tiba-tiba meluruh, melantun macam seketul batu terus di hadapan
mereka semua. Maka mengenai perkara inilah kita mau melihat macam mana Muadz
bin Jabbal ra. dalam masa begitu singkat telah mencapai ilmu yang begitu
tinggi. Dan Rasulullah SAW telah menasehatkan Muadz bin Jabbal ra. bahwa
janganlah lupa tiap-tiap lepas sembahyang maka berdoalah kepada Allah SWT,
Allahumma ainni alla dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatika. Ya Allah
bantulah aku untuk mengingatiMu, untuk bersyukur kepadaMu, dan untuk
memperelokkan ibadah-ibadahku.”
Sekali Abdullah bin Mas’ud ra. telah
berkata, “Maka adalah dia Muadz bin Jabbal (ra) dia satu ummat (dia seorang,
tetapi seperti ummat) yang berdiri ibadah kepada Allah SWT, menyimpang dari
semua agama, ikhlas kepada Islam, dan tidakklah dia dikalangan orang-orang yang
menyekutukan Allah SWT.” Dan ayat ini ada di Al-Qur’an, Allah firmankan itu
kepada Ibrahim AS. Kemudian sahabat menegur, “Itu adalah sesungguhnya Ibrahim
AS. Kemudian Abdullah ra. menjawab, “Sesungguhnya Muadz (ra) adalah satu ummat
yang berdiri ibadah…..(hingga selesai). Lantas Sahabat ini menegur kembali,
“Sesungguhnya itu Ibrahim AS.” Dan Abdullah bin Mas’ud ra. berkata sekali lagi,
“Sesungguhnya Muadz (ra) satu ummat,…(hingga selesai). Kemudian kali ketiga
sahabat yang menegur itu bertanya, “Kenapa?” Kata Abdullah bin Mas’ud
ra.,”Telah aku dengar Nabi SAW bersabda sesungguhnya Muadz (ra) adalah satu ummat
yang berdiri ibadah kepada Allah SWT, menyimpang dari semua agama, Ikhlas
kepada agama Islam, dan tidaklah dia di kalangan orang-orang yang menyekutukan
Allah SWT, “Nabi SAW bersabda, “Dia seorang tapi dia sebagai ummat.”
Maka tuan-tuan yang mulia, bagaimana
Muadz ra. mencapai derajat ketinggian di sisi Allah SWT? Karena dia senantiasa
berada di atas petunjuk cara Rasulullah SAW. Maka kalau kita juga inginkan
ketinggian seperti Muadz bin jabbal ra, maka tidak dapat tidak, kita mesti
berada di jalan yang telah ditunjukkan oleh Nabi SAW. Maka apabila kita menyeru
kepada Allah SWT, menyeru kepada Baginda SAW dengan cara yang telah ditunjukkan
Baginda SAW walaupun anda seorang, maka kita akan dikira sebagai ummat
seluruhnya.
Lantaran itu ummat ini terbagi kepada
dua. Pertama, ummat dakwah yaitu ummat yang mereka perlu didakwahkan untuk
menerima Allah dan Rasul. Allah sebagai Rabb mereka, dan Rasul sebagai Nabi
mereka. Kedua, umat istijabah, ummat yang telah menyahut seruan Allah dan
Rasul-Nya. Mereka menjadi orang-orang Islam. Ummat ini kedua-duanya telah
datang daripada seruan Allah SWT, “Wahai sekalian ummat, (termasuk ummat yang
telah menyahut seruan Allah dan Rasul menjadi orang-orang islam, dan ummat yang
belum lagi menerima seruan Allah dan Rasul, orang-orang kafir, musyrik, orang
yang menyembah berhala, maka kamu semua ummat), wahai ummat Muhammad SAW
(dikalangan ramai-ramai ummat tadi), maka kamu jadilah satu ummat yang khusus.
Dan hendaklah ada di antara kamu wahai ummat Muhammad SAW (yang termasuk orang
beriman, orang tidak beriman, penyembah berhala) satu ummat yang menyeru kepada
kebajikan, mencegah kepada munkar, dan mereka ialah orang-orang yang
berjaya.”Maka didalam perkara ini, di kalangan ummat-ummat yang ramai, di
kalangan ummat istijabah, iaitu orang yang telah menyahut seruan Allah dan
RasulNya menjadi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kamu mesti
timbul satu ummat walaupun satu orang, yang kalau kita menyeru manusia kepada
Allah dan Rasul, maka kita adalah satu ummat dan akan mendapat ganjaran
seluruhnya. Karena orang yang menyeru kepada Allah dan Rasul dengan cara
Rasululllah SAW walaupun dia seorang dia adalah ummat.
Maka menjadi tanggungjawab kepada
ummat istijabah, bagi mereka orang-orang mukmin perlu juga dilakukan dakwah di kalangan
mereka sendiri untuk mewujudkan satu ummat yang lain, satu ummat yang berusaha
untuk menyeru kepada umat-umat dakwah. Maka itu Allah SWT telah menyebut di
dalam Al-Qur’an,
“Wahai orang-orang yang telah beriman,
telah menyahut seruan dan kamu telah berkata Laa Ilahaa ilallah. Wahai orang
beriman, kamu yang telah naik saksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul. Mereka
orang yang beriman dengan Allah, beriman dengan Rasul, telah menyahut seruan
Allah dan RasulNya, Allah sambut lagi sekali dengan didakwahkan sesama orang
yang telah beriman. Apabila Allah dan Rasul menyeru kamu supaya untuk
menghidupkan kamu satu kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, ketahuilah
wahai hamba-hamba yang beribadah, beriman, yang telah mengucapkan kalimah
syahadah, kamu kena jaga, kamu kena takut karena seseorang itu walaupun dia
bersholat, walaupun dia membaca Al-Qur’an, walaupun dia beriman, karena hati
seseorang itu diantara dua jari arrahmat.” Allah boleh menukarkan bagaimana Dia
kehendaki. Allah boleh alih bagaimana Dia kehendaki seperti datang dalam hadits
Nabi SAW, “Berpagi-pagi seorang lelaki seorang mukmin, berpetang-petang dia
menjadi orang kafir. Dan berpetang-petang dia menjadi orang mukmin, bepagi-pagi
dia menjadi orang kafir. Dan dia telah menjual agamanya dengan dunia yang
murah.”
Jadi walaupun kamu beribadah, membaca
Al-Qur’an, walaupun kamu seorang mukmin, tetapi harus kamu takut, harus kamu
jaga, sesungguhnya Allah SWT mengontrol, mengawal hati manusia. Maka Allah SWT
boleh alihkan bagaimana yang Dia kehendaki. Bahwasanya ummat ini, manusia yang
kufur terhadap Allah SWT ataupun yang beriman tadi akhir kesudahannya dia akan
dihimpun dihadapan Allah SWT dan bertaqwalah kamu kepada Allah, takutlah kamu
kepada Allah akan satu fitnah, satu ujian, satu musibah, azab yang akan datang
kepada kamu, yang bukan akan mengena kepada orang yang zalim, orang yang
melanggar perintah Allah SWT semata-mata, bahkan kalau datang azab ia akan
datang kepada semua orang. Dan ketahuilah bahwasanya Allah SWT sangat-sangat
keras azabnya.
Maka seseorang walaupun dia baca
Alqur’an belum tentu lagi kejayaan dia. Walau dia bersholat belum tentu lagi
kejayaan dia. Tetapi apabila seseorang berusaha mewujudkan dakwah, menyeru satu
sama lain, maka semoga Allah SWT memberi kejayaan kepadamu. (Sekarang kita akan
wudhu terlebih dahulu untuk sholat isya..).
Sesungguhnya ini adalah saat yang
berkah. Allah SWT kabulkan doa selepas adzan dan juga malaikat-malaikat yang
ada di sekeliling kita, malaikat-malaikat yang tindih bertindih diantara satu
sama lain sampai ke langit dunia, sebagaimana dikhabarkan Rasulullah SAW,
selain daripada malaikat-malaikat yang hadir bersama kita ketika kita shalat,
selain dari malaikat yang mencatit amalan kita, dan ini adalah malaikat yang
Allah khaskan untuk mencari majelis-majelis zikir, majelis-majelis membesarkan
Allah SWT, ianya datang. Maka apabila akhir majelis nanti, malaikat akan balik
pada Allah SWT. Allah mengetahui segala-galanya, Ia akan bertanya kepada
mereka, apa yang hambaKu buat. Maka Malaikat akan berikan kepada Allah SWT,
bahwa mereka itu memujiMu, mensyukuriMu, mereka mengagungkanMu, membesarkanMu.
Apa yang mereka minta? Kata malaikat, “mereka minta syurga.” Mereka nampakah
surga? Tidak. Kalau nampak macam mana? Lebih lagi keghairahan mereka, lebih
lagi usaha mereka untuk mendapatkannya. Dariapa mereka minta dilindungi? Kata
malaikat, “dari neraka.” Apa pernah mereka melihat neraka? Belum. Bagaimana
jika mereka melihatnya? Mereka lebih lagi akan usaha untuk menjauhkan diri
mereka, usaha untuk menjauhkan diri mereka dari pada neraka. Maka Allah SWT
telah berkata kepada para malaikat, “Aku persaksikan kamu semuanya, aku beri
apa yang mereka minta, dan aku jauhkan apa yang mereka minta dijauhkan. Dan aku
persakiskan kamu hai malaikat, Aku ampunkan semua yng ada di majlis itu.” Lalu
malaikat kata, “Ya Allah ada satu orang bukan dari kalangan mereka. Dia datang
untuk satu tujuan atau keperluan yang lain.” Maka itupun Allah kata, “Aku
ampunkan dia karena itu adalah satu majelis yang tidak akan terhidnar dari keberkatan
seorangpun yang menyertai mereka. Lalu malaikat berkata lagi, “Wahai Allah, ada
seseorang yang banyak dosanya. Dia datang lalu dia duduk.” Maka itupun Allah
SWT kata, “Aku ampunkan dosa-dosa dia karena dia berada dalam satu kaum dimana
tidak ada seorangpun akan terhindar dari keberkatannya.” Maka Allah SWT akan
beri ketika akhir majelis nanti.
Untuk itulah kita sabarkan diri kita
sampai akhir majelis dan mendapat hadiah ini dari Allah SWT.
Dan tanda-tanda doa makbul adalah doa
musafir. Kalau orang biasa saja, bukan keluar di jalan Allah SWT, sebagai
musafir, Allah SWT terima doa dia, lebih-lebih lagi orang yang keluar musafir
karena agama Allah SWT, keluar di jalan Allah SWT. Maka lantaran itu
waktu-waktu penerimaan doa seperti ini janganlah kita sia-siakan. Bahwa mereka
yang ada niat untuk keluar di jalan Allah SWT maka mesti dia doa di dalam hati
supaya keluar di jalan Allah SWT mau belajar agama, keluar di jalan Allah SWT
mau jadi satu ummat seperti Allah SWT perintahkan dalam al-Qur’an, kita mau keluar
di jalan Allah SWT kita mau belajar usaha agama, mau belajar dakwah, mau
belajar khidmat, supaya Allah SWT beri hikmah kepada kita. Maka kita mesti
gunakan peluang yang mulia ini untuk keluar di jalan Allah SWT.
Kalau kita keluar di jalan Allah SWT
sekali-kali Allah tidak akan mensia-siakan kita, Allah tidak akan merugikan
kita, sepertimana Allah SWT tidak mempersia-siakan Hajar r.ha., dan bayinya
ismail AS. Apabila Ibrahim AS telah menerima perintah Allah SWT, untuk
meninggalkan isterinya yang tercinta, anaknya yang tersayang di satu lembah
yang Allah SWT sifatkan, suatu lembah yang tidak ada asbab-asbab kehidupan,
tidak ada tumbuhan, lantaran tidak ada air. Hanya ada asbab kematian dan
kebinasaan. Tetapi apabila menunaikan perintah Allah SWT, maka mereka yakin
bahwa Allah SWT sekali-kali tidak akan mensia-siakan mereka. Apabila Ibrahim AS
meninggalkan isteri dan anaknya yang tersayang, dia tidak lagi menoleh ke
belakang, takut bahwa cintanya kepada isteri, kasihnya terhadap anak akan
membuat dia berbolak-balik dalam menunaikan perintah Allah SWT sehingga Hajar
r.ha bertanya, “Menganpa kami ditinggalkan disini?” Dia tidak menjawab. Kali
kedua, dia tidak juga menjawab. Kali ketiga isterinya kata, “Apakah Allah
memerintahkan kamu untuk buat demikian?” Maka itupun Ibrahim AS tidak menjawab.
Hanya menganggukkan kepala berkata iya. Maka apabila mendengar bahwa ini adalah
perintah Allah SWT, apa kata Hajar? “Kalau begitu sekali-kali Allah tidak akan
mempersia-siakan kami.”
Apabila kita buat usaha agama, keluar
di jalan Allah SWT, sekali-kali Allah tidak akan mempersia-siakan kita. Tetapi
siapa yang ada keyakinan yang rusak, bahwa keluar di jalan Allah SWT akan
merugikan, akan dipersia-siakan, maka ini adalah satu iktikad yang rusak, satu
yakin yang rusak, yang perlu dikikis dari hati kita, bahwa Allah SWT
sekali-kali tidak akan mempersia-siakan orang yang keluar di jalan Allah SWT
buat usaha agama.
Siapa sedia, InsyaAllah?
Mengenai Umat dakwah dan umat
istijabah tadi, maka tanggung jawab umat dakwah ialah atas bahu umat istijabah.
Tetapi di kalangan ummat istijabah juga perlu wujud satu kumpulan, satu kaum
yang menyeru mereka kepada perintah Allah SWT yang mereka tidak sempurnakan.
Karena ada diantara orang-orang mukmin, orang-orang Islam yang tidak menunaikan
sholat, menunaikan zakat, dan rukun-rukun Islam yang lain dan amalan-amalan
Islam yang lain. Maka menjadi tanggungjawab di kalangan umat istijabah itu
sendiri, ummat Islam itu sendiri untuk menyeru di kalangan mereka, supaya
mereka sama-sama bangun untuk melakukan amalan. Setiap umat ini buat kerja yang
dipertanggungjawabkan kepada mereka iaitu menyeru kepada makruf dan mencegah
terhadap munkar.
Sepertimana Bani Israel, mereka
dipertanggungjawabkan untuk menyeru kepada makruf dan mencegah kepada munkar,
dan mereka meninggalkan tanggung jawab mereka, lantaran itu Allah SWT telah
berfirman di dalam Al-Qur’an yang mahfumnya,
“Telah dilaknat Bani israel atas
lisan, atas lidah Nabi Daud AS dan lidah Nabi Isa AS, karena mereka telah
memaksiati Allah SWT dan mereka telah melampaui batas. Dan karena mereka tidak
menyeru kepada makruf dan tidak mencegah daripada munkar, dan buruk sekali apa
yang mereka lakukan.”
Maka Nabi SAW bersabda,
“Sungguh-sungguh kamu kena menyeru kepada makruf dan sungguh-sungguh kamu kena
mencegah dari munkar bahwa kalau tidak, cepat sekali Allah SWT akan turunkan
Azab. Dan apabila turun azab kamu berdoa dan Allah SWT tidak akan mengabulkan
doa kamu.” Lantaran itu hari ini rata-rata orang berkumpul di Arafah berdoa,
“Ya Allah bantulah orang Islam, muliakanlah orang Islam.” Tetapi tidak nampak
bantuan Allah SWT secara menyeluruh, dan orang Islam makin hina dan makin hina.
Karena apa? Karena umat ini tidak menunaikan syarat Allah SWT untuk mendapatkan
bantuan Allah SWT. Apa syarat Allah SWT? Jika kamu membantu agama Allah SWT,
maka Allah SWT akan membantu kamu. Kita ini sekarang ramai, tetapi keadaan kita
kedudukan kita seperti sampah yang berada di permukaan air bah lantaran dosa
kita.
Kita sekarang ini mesti niat, bertobat
kepada Allah SWT daripada hati kita sungguh-sungguh. Dosa apa? Dosa
meninggalkan dakwah. Kita telah menzalimi diri kita sendiri karena meninggalkan
dakwah. Kisah Yunus AS, apabila dia mendakwah kaum dia dan apabila dia telah
putus asa dengan kaum dia karena mereka tidak beriman, maka dia telah
meninggalkan dakwah terhadap mereka. Maka balasan daripada Allah SWT bahwa ikan
telah menelannya. Maka apabila dia telah berada di perut ikan maka dia faham
bahwa meninggalkan dakwah itu satu kezaliman. Lantaran itu dalam doa, “Laa
ilahaa illa anta, subhanaka inni kuntu minal zalimin. Maha suci Allah tidak ada
Tuhan melainkan Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Meninggalkan dakwah adalah satu
kezaliman. Sekarang tuan-tuan yang mulia, kita menzalimi diri kita sendiri dan
diri orang lain. Lantaran itu kita mesti bertobat kepada Allah SWT. Dan kita
berdoa kepada Allah SWT, semoga Allah SWT pilih kita keluar di jalan Allah SWT.
Karena tanpa taufik dari Allah SWT seorangpun tak boleh keluar ke jalan Allah.
Lantaran itu kita berdoa bersungguh-sungguh supaya Allah pilih kita . Janganlah
Allah campakkan kita sebagaimana sampah dicampak ke tempat sampah. Kita minta
supaya Allah pilih kita. Dunia, Allah beri kepada semua orang, kepada orang
yang Dia suka dan Dia tak suka. Tetapi agama hanya Allah beri kepada orang yang
Allah suka. Kita yang berhajat, Allah tidak berhajat kepada kita.
Oleh itu selepas doa kita jumpa orang,
taskyil. Saya yang berhajat, saya kena keluar di jalan Allah SWT. Mengapa kita
perlu dimotivasi, mengapa kita perlu diberi semangat. Padahal untuk keduniaan
kita, tiada siapapun beri semangat kepada kita. Tetapi kepada akherat kenapa
pula kita mesti beri perangsang.
Bayan Maghrib Imam Diraja Qatar,
Mutarjim Ustadz. Abdul Hamid
Apri 2001 Masjid Sri Petaling dari:
dakwah.cjb.net
Tidak ada komentar:
Posting Komentar