Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
A'udzubillaahi
minasyaithoonirrojiim. Wal ladziina jaahadu fiinaa la nahdiyannahum subulanaa
wa innallaaha la ma?al muhsiniin artinya ; Dan orang-orang yang berjihad
untuk(mencari Keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami Tunjukkan kepada mereka
Jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
Beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S Al ?Ankabuut/29 ; 69)
ManajemenQolbu.Com : Islam
mengajarkan shalat lima waktu. Dan salah satu hikmah shalat bagi kita diantaranya
adalah bagaimana melatih pikiran untuk khusyu. Semestinya, seorang muslim yang
baik adalah orang yang terlatih untuk bisa bersungguh-sungguh konsentrasi dalam
melakukan apapun. Sehingga kita bisa mensinergikan potensi yang akan berbuah
prestasi. Karena kita semua berpeluang menjadi orang yang sukses, Insya Allah.
Bagi saudara-saudaraku yatim piatu, sahabat pun sangat berpeluang menjadi
orang sukses dan mulia. Bukankah kita telah simak perjalanan Nabi Muhammad SAW,
yang saat lahir ia dalam keadaan yatim. Bahkan di usia 5 tahun ia menjadi yatim
piatu, karena ibunda tercintanya pun wafat. Namun, beliau tidak patah semangat
walaupun tidak pernah merasakan belaian dan perhatian sang ayah dan telah
ditinggal ibunya
Rasulullah Saw telah memberi contoh, betapa seorang yang telah yatim piatu
dari usia 5 tahun, namun tetap memiliki kegigihan. Usia 8 tahun, ia sudah mulai mandiri dengan menggembalakan
kambing, supaya dirinya tidak menjadi beban. Ini merupakan gambaran dari sebuah
kesungguhan untuk menata harga diri. Kesungguhan
untuk menata kehormatan diri. Karena ada orang yang tidak bersungguh-sungguh
dalam menjaga harga dirinya. Walaupun ia
memiliki rumah berharga, kendaraan bermotor, harta, perhiasan berharga, namun karena tidak
bersungguh-sungguh menjaga diri, maka yang tidak berharga adalah dirinya
sendiri. Padahal Nabi Muhammad telah memberikan suri tauladan. Beliau mengawali
kehidupannya dengan bersungguh-sungguh menjaga kehormatan diri.
Di masa remaja, Nabi Muhammad sebelum menjadi Nabi sudah bersungguh-sungguh
memelihara kata-katanya, pergaulannya, kepribadiannya, sehingga masyarakat
memberikan gelar yang monumental. Gelar yang tidak pernah ada
sebelumnya dan tidak ada lagi sesudahnya yaitu Al Amin? Orang yang terpercaya?
Sebuah gelar yang tidak mungkin diberikan kepada orang yang tidak
bersungguh-sungguh.
Setiap janjinya sungguh-sungguh ditepati. Setiap amanahnya sungguh-sungguh
ditunaikan. Setiap berkata sungguh-sungguh terjamin kualitas kebenarannya, dan
terjamin kemanfaatannya. Setiap bertransaksi bersungguh-sungguh untuk jujur,
sehingga investor para penitip modal sangat puas dengan sikapnya. Begitu juga
dengan pembeli, siapapun yang melihat akan puas karena beliau menjaga kualitas
sikapnya, kualitas khidmatnya. Kesungguhan membuat beliau betul-betul menjadi
figur yang sangat dihormati pada waktu itu.
Di usia 25 tahun beliau menikah dengan Siti Khadijah, seorang investor. Namun,
Subhanallah hidupnya sangat bersahaja. 18 kali, beliau melakukan perjalanan ke
luar negeri untuk berniaga. Nabi Muhammad begitu populer diwaktu itu. Muhammad
muda yang tampan rupawan, gagah perkasa, mulia perangainya, indah akhlaknya,
jernih akal pikiran, lembut pribadinya, pemberani dan kokoh tekadnya. Subhanallah.
Saudaraku, sebuah karya tidak akan lahir tanpa kesungguhan. Nikah dengan
wanita yang usianya lebih senior tentu memerlukan kesungguhan dalam menata
niat. Beliau menikah dengan istri yang waktu itu belum muslimah, tentunya
membutuhkan kesungguhan dan kesiapan mental. Nabi Muhammad sangat serius menata
hari-harinya dengan kesungguhan, sehingga terbebas dari kesia-siaan.
Kesungguhan. Sebuah kata yang pendek, namun bermakna dalam. Tidak satu pun
yang dicontohkan Nabi sebagai kesia-siaan. Benar kita bisa rileks, bisa
bergurau, bisa bermain-main dengan anak sebagai kebutuhan manusiawi kita. Dan
bersungguh-sungguh itu tidak berarti konsentrasi setiap waktu. Namun dalam berguraupun kita bisa menjaga
kualitasnya, agar gurau kita tidak vulgar, tidak menyakiti, tidak dusta, inipun
merupakan bagian dari menjaga kesungguhan.
Maka, siapapun yang ingin berprestasi, jangan setengah-setengah ! Sempurnakan
saja, walaupun hasilnya tidak akan sempurna. Tapi upaya kita dalam
menyempurnakan ikhtiar merupakan salah satu energi yang sangat besar untuk
membuat kita berprestasi. Mulailah kita melakukan hal apapun dengan
kesungguhan. Misalnya saat merapihkan sandal, rapihkan dengan sungguh-sungguh. Atau
saat menyimpan dan mengambil pakaian dari lemari, ambilah secara rapi. Dalam
berkata-kata, pilihlah kata-kata terbaik. Yang paling bersih dari dusta dan
bersih dari menyakiti, sederhana namun bermakna. Kata-kata yang paling
bermanfaat bagi yang mengucapkan maupun
yang mendengarnya. Jika kita membaca,
usahakanlah dengan sungguh-sungguh sehingga waktu yang sedikit manfaatnya dapat
menjadi besar. Pendek kata, orang-orang yang bersungguh-sungguhlah yang akan
berpeluang untuk berprestasi .
Contoh-contoh diatas memang kecil, tetapi itu
sangat menentukan. Maka, biasakan kita melakukan apapun dengan kesungguhan dan berikan yang terbaik. Wallahu a?lam bis shawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar