Menu

  • Daftar Isi
  • Rasulullah
  • Sahabat
  • Nabi & Rasul
  • Ulama'Sholeh
  • Qolbi
  • Akhlaq & Etika
  • Doa & Dzikir
  • Shalawat
  • Ayat & Surat
  • Tentang Rezeqi
  • Tentang Cinta
  • Ttg Keluarga
  • Catatan
  • Cinta Sufi
  • Sabtu, 13 Juli 2013

    Kesungguhan

    Oleh       : KH Abdullah Gymnastiar
     A'udzubillaahi minasyaithoonirrojiim. Wal ladziina jaahadu fiinaa la nahdiyannahum subulanaa wa innallaaha la ma?al muhsiniin artinya ; Dan orang-orang yang berjihad untuk(mencari Keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami Tunjukkan kepada mereka Jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S Al ?Ankabuut/29 ; 69)

    ManajemenQolbu.Com : Islam mengajarkan shalat lima waktu. Dan salah satu hikmah shalat bagi kita diantaranya adalah bagaimana melatih pikiran untuk khusyu. Semestinya, seorang muslim yang baik adalah orang yang terlatih untuk bisa bersungguh-sungguh konsentrasi dalam melakukan apapun. Sehingga kita bisa mensinergikan potensi yang akan berbuah prestasi. Karena kita semua berpeluang menjadi orang yang sukses, Insya Allah.

    Bagi saudara-saudaraku yatim piatu, sahabat pun sangat berpeluang menjadi orang sukses dan mulia. Bukankah kita telah simak perjalanan Nabi Muhammad SAW, yang saat lahir ia dalam keadaan yatim. Bahkan di usia 5 tahun ia menjadi yatim piatu, karena ibunda tercintanya pun wafat. Namun, beliau tidak patah semangat walaupun tidak pernah merasakan belaian dan perhatian sang ayah dan telah ditinggal ibunya

    Rasulullah Saw telah memberi contoh, betapa seorang yang telah yatim piatu dari usia 5 tahun, namun tetap memiliki kegigihan. Usia 8 tahun, ia  sudah mulai mandiri dengan menggembalakan kambing, supaya dirinya tidak menjadi beban. Ini merupakan gambaran dari sebuah kesungguhan untuk menata harga diri.  Kesungguhan untuk menata kehormatan diri. Karena ada orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam  menjaga harga dirinya. Walaupun ia memiliki rumah berharga, kendaraan bermotor, harta, perhiasan  berharga, namun karena tidak bersungguh-sungguh menjaga diri, maka yang tidak berharga adalah dirinya sendiri. Padahal Nabi Muhammad telah memberikan suri tauladan. Beliau mengawali kehidupannya dengan bersungguh-sungguh menjaga kehormatan diri.

    Di masa remaja, Nabi Muhammad sebelum menjadi Nabi sudah bersungguh-sungguh memelihara kata-katanya, pergaulannya, kepribadiannya, sehingga masyarakat memberikan  gelar yang  monumental. Gelar yang tidak pernah ada sebelumnya dan tidak ada lagi sesudahnya yaitu Al Amin? Orang yang terpercaya? Sebuah gelar yang tidak mungkin diberikan kepada orang yang tidak bersungguh-sungguh.

    Setiap janjinya sungguh-sungguh ditepati. Setiap amanahnya sungguh-sungguh ditunaikan. Setiap berkata sungguh-sungguh terjamin kualitas kebenarannya, dan terjamin kemanfaatannya. Setiap bertransaksi bersungguh-sungguh untuk jujur, sehingga investor para penitip modal sangat puas dengan sikapnya. Begitu juga dengan pembeli, siapapun yang melihat akan puas karena beliau menjaga kualitas sikapnya, kualitas khidmatnya. Kesungguhan membuat beliau betul-betul menjadi figur yang sangat dihormati pada waktu itu.

    Di usia 25 tahun beliau menikah dengan Siti Khadijah, seorang investor. Namun, Subhanallah hidupnya sangat bersahaja. 18 kali, beliau melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berniaga. Nabi Muhammad begitu populer diwaktu itu. Muhammad muda yang tampan rupawan, gagah perkasa, mulia perangainya, indah akhlaknya, jernih akal pikiran, lembut pribadinya, pemberani dan kokoh tekadnya. Subhanallah.

    Saudaraku, sebuah karya tidak akan lahir tanpa kesungguhan. Nikah dengan wanita yang usianya lebih senior tentu memerlukan kesungguhan dalam menata niat. Beliau menikah dengan istri yang waktu itu belum muslimah, tentunya membutuhkan kesungguhan dan kesiapan mental. Nabi Muhammad sangat serius menata hari-harinya dengan kesungguhan, sehingga terbebas dari kesia-siaan.

    Kesungguhan. Sebuah kata yang pendek, namun bermakna dalam. Tidak satu pun yang dicontohkan Nabi sebagai kesia-siaan. Benar kita bisa rileks, bisa bergurau, bisa bermain-main dengan anak sebagai kebutuhan manusiawi kita. Dan bersungguh-sungguh itu tidak berarti konsentrasi setiap waktu.  Namun dalam berguraupun kita bisa menjaga kualitasnya, agar gurau kita tidak vulgar, tidak menyakiti, tidak dusta, inipun merupakan bagian dari menjaga kesungguhan.

    Maka, siapapun yang ingin berprestasi, jangan setengah-setengah ! Sempurnakan saja, walaupun hasilnya tidak akan sempurna. Tapi upaya kita dalam menyempurnakan ikhtiar merupakan salah satu energi yang sangat besar untuk membuat kita berprestasi. Mulailah kita melakukan hal apapun dengan kesungguhan. Misalnya saat merapihkan sandal, rapihkan dengan sungguh-sungguh. Atau saat menyimpan dan mengambil pakaian dari lemari, ambilah secara rapi. Dalam berkata-kata, pilihlah kata-kata terbaik. Yang paling bersih dari dusta dan bersih dari menyakiti, sederhana namun bermakna. Kata-kata yang paling bermanfaat bagi yang  mengucapkan maupun yang mendengarnya. Jika  kita membaca, usahakanlah dengan sungguh-sungguh sehingga waktu yang sedikit manfaatnya dapat menjadi besar. Pendek kata, orang-orang yang bersungguh-sungguhlah yang akan berpeluang untuk berprestasi .


    Contoh-contoh diatas memang kecil, tetapi itu sangat menentukan. Maka, biasakan kita melakukan apapun  dengan kesungguhan dan berikan yang terbaik. Wallahu a?lam bis shawa

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Ajine Diri Soko Lati (Kemuliaan Diri dari Lidahnya). Ajine Jiwo Soko Toto (Kemuliaan Jiwa dari penyunciannya). Ajine Rogo Soko Busono (Kemuliaan Jasmani dari Pakaiannya). Ajine Pangan Soko Roso (Kemuliaan pangan dari Rasanya). Ajine Harta Soko Amal (Kemuliaan harta dari Amalnya).

--------------------------------------------------------------------------------------------------------