Mencintai Orang Yang Dicintai
Allah SWT
Update : 06 / Oktober / 2005 Edisi 15 Th. 2-2005M/1426H
Mencintai Allah Swt dan Rasulullah Saw adalah sesuatu yang
wajib, begitu pula mencintai orang yang sholeh, orang yang dekat pada Allah
Swt, orang yang menghabiskan hidupnya untuk berjuang dijalan Allah, berdzikir
menyebut keagungan dan kemulyaan Allah dan orang orang yang menapaki jejak
Rasulullah, kecintaan kepada mereka akan mendatangkan manfa’at yang amat besar,
terlebih lagi manakala kecintaan itu diwujudkan dengan mengikuti petuah mereka,
serta diikuti dengan berkhidmah, mengabdikan diri dengan ikhlas tanpa pamrih
untuk melayani dan meringankan kebutuhan mereka, pada saatnya semua itu menjadi
sebab turunnya keberkahan dari Allah Swt, dan akan mendatangkan kemaslahatan
dalam semua urusan, di dunia ini maupun di akherat kelak.
Sebuah cerita dalam
kitab Syarah Hikam Libni’ Abbad, tentang syeikh Ibnu Atho’illah Pengarang AL
HIKAM, kitab yang berisi mutiara mutiara kata yang menyentuh keimanan dan
meneguhkan keyakinan, yang menjadi rujukan orang orang Saleh sejak zaman dulu
hingga kini, dimana dikisahkan, Ibnu Atho’illah mengunjungi Syeikh Ibnu Abas Al
Mursiy Ra, seorang wali qutub yang agung dan penerus syaikh Abul Hasan
asy-Syadyiliy, dan sekaligus bermaksud hendak berguru kepadanya. Sebagai
umumnya seorang murid yang penuh kesungguhan untuk menimba ilmu dan berkah dari
gurunya, Ibnu Atho”illah ingin mendapatkan perhatian lebih dari gurunya tersebut
(Nadhor Sjech), karena dikalangan kaum Sufi diyakini Nadhorus Sjech akan dapat
mengkatrol seorang murid, menuju peringkat yang luar biasa. Sebelum Ibnu
Athoillah menyampaikan keinginannya, untuk berguru kepada Syeikh Ibnu Abas Al
Mursiy Ra, Waliullah Ibnu Abbas itu sudah terlebih dahulu tahu, maksud hati
tamunya, dan beliau berkata : “Kecintaan dan perhatian guru terhadap murid,
ditentukan seberapa besar kecintaan dan perhatian murid terhadap gurunya, dan
jangan khawatir kamu disini akan menjadi orang yang hebat”. Dalam kesempatan
yang lain, pada saat Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, berkeinginan menulis kitab
Tahdzib yang waktu itu hanya dipunyai oleh anaknya saja, tanpa memberitahu pada
gurunya Ibnu Athoillah mulai menulisnya. Karena kitab cukup tebal yang terdiri
dari tiga jilid, maka setelah mendapat satu jilid Ibnu Athoillah segera
bersilaturahmi ke kediaman Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra untuk menyerahkan
tulisan tersebut. Dan ternyata sang guru menerimanya dengan rasa bahagia dan
mendo’akan Ibnu Athoillah. Hal demikian itu terjadi sampai tiga kali. Syeikh
Ibnu Abas Al Mursiy Ra berkata : “Kamu harus mampu menjadi pemuka dalam ilmu
tasawuf, aku tidak terima kalau kamu hanya mengusai ilmu fiqih saja”. Ibnu
Athoilah mengakui, berkat bimbingan dan do’a Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, ia
mengalami perkembangan spiritual yang luar bisa. Ini adalah salah satu contoh
barokahnya berkhidmah dan memperhatikan sang guru. Dan itu adalah pendidikan
yang berlaku antara santri dan Kyai. Oleh karenanya sebagai santri atau murid
hendaknya merasa mantap dan selalu tawadhu’ lahir dan bathin dihadapan sang
guru, berhidmah melayani kebutuhan sang guru. Yang semua itu akan menjadi sebab
kebahagiannya di dunia dan akherat. Allah Swt Berfirman dalam surat At Taubah
ayat 119 yang artinya : “wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah
dan hendaknya kamu bersama-sama orang-orang yang benar/terpercaya”. Rasululah
saw bersabda : “Hendaknya kamu bersama Allah, kalau belum mampu maka bersamalah
dengan orang yang telah bisa bersama dengan Allah, karena orang ini nantinya
akan bisa menyampaikan kamu kepada Allah, jika kamu betul-betul mau
bersamanya”. Dalam kitab Iqozhul Himam, (Syarah Al Hikam ) dikatakan :
“Mengabdi kepada para masyayikh adalah suatu ibadah yang agung dan suatu derajat
yang agung pula. Demikian pula, Syeikh Sayid Abdul warits berkata : “Mengabdi
kepada orang-orang yang mulia disisi Allah, bisa menyebabkan wushul atau dekat
dan sampai kepada Allah Swt…” Syeikh Hasan Al Bashri ra berkata : “Siapa saja
yang bisa diikuti tentang ketaatannya kepada Allah, maka wajiblah dicintai. Dan
barang siapa cinta dengan orang sholeh maka berarti senang dengan Allah.
Sulthonul Auliya’ abu Yazid Al Busthami menyatakan : “Cintailah para
waliyullah, agar mereka mencintaimu, sesungguhnya Allah melihat hati para
wali-Nya, mungkin saja Allah melihat namamu di dalam hati wali-Nya yang bisa
menyebabkan dosamu diampuni-Nya. Bahkan dalam kitab Fathul Mu’in menyebutkan
salah satu dari obat hati adalah berkumpul dengan orang-orang yang sholeh. Begitu
banyaknya dorongan dan ajakan untuk cinta dan berbakti kepada kaum sholihin
atau orang-orang yang dekat dengan Allah, karena mencintai dan berhidmah kepada
mereka pada hakikatnya adalah, kita mengabdikan diri dan cinta kepada Allah Swt
dan Rasulullah Saw. (Rdk)
Silakan mengutip dengan mencantumkan
nama almihrab.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar