bismillahirahmanirahim
Di dalam tubuh ini ada akal, jasad, dan qolbu. Akal membuat
orang bisa bertindak lebih efektif dan efisien dalam melakukan apa yang ia
inginkan. Sedangkan tubuh bertugas melakukan apa yang diperintahkan oleh akal.
Sebagai contoh, apabila akal menginginkan tubuh mampu berkelahi, maka tubuh akan
berlatih agar menjadi kuat. Sayangnya, tidak sedikit orang yang cerdas, orang
yang begitu gagah perkasa, tapi tidak menjadi mulia, bahkan sebagian
diantaranya membuat kehinaan karena berbuat jahat. Mengapa? Sebab ada satu yang
membimbing akal dan tubuh yang belum diefektifkan, itulah qolbu. Kita ambil
contoh lain, sebuah mikrofon bisa menjadi alat provokasi kejahatan, bisa juga
jadi alat dakwah dan menyampaikan ilmu, sebuah mikrofon bisa juga menjadi alat
bantu berbicara sehingga menjadi fasih, itulah fungsi mikrofon. Artinya, yang
menentukan isi dari bahasa yang keluar darinya adalah qolbu. Dalam hal ini
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging yang
jika ia baik maka baik pula yang lainnya, sebaliknya yang apabila ia jelek maka
jeleklah semuanya. Dan yang dimaksud daging itu ialah Qolbu.
Jadi, yang terpenting dari manusia ternyata bukan
kecerdasannya saja, tapi yang membimbing cerdasnya otak menjadi benar, yang
membimbing kuatnya fisik menjadi benar. Disitulah fungsi qolbu. Oleh karenanya,
menjadi cerdas belum tentu mulia, kecuali kecerdasannya dipakai untuk berbuat
kebenaran. Menjadi kuat belum tentu mulia, kecuali kekuatannya di jalan yang
benar.
Di dalam qolbu ini ada yang disebut potensi, faalhamahaa
fujuu rahaa wa taqwaaha (QS. Asy Syams [91] : 8), “Dan diilhamkan kepadanya
yang salah dan yang taqwa (benar)”. Begitulah, qolbu ini punya potensi negatif
dan potensi positif. Allah telah menyiapkan keduanya dengan adil. Dan
disinilah pentingnya fungsi manajemen. Manajemen secara sederhana berarti
pengelolaan dan pentadhiran. Sebuah sistem dengan manajemen yang baik, dengan
pengelolaan yang baik, sekecil apapun potensi yang dimiliki, Insya Allah akan
membuahkan hasil yang optimal.
Negara Singapura, misalnya, tidak
punya Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, bahkan untuk mencukupi kebutuhan
air minumnya saja, Singapura harus mengimpornya dari Johor, Malaysia. disisi
lain ternyata mereka berhasil mengelola Sumber Daya Manusia (SDM)-nya, sehingga
walaupun SDA-nya minim, tapi SDM-nya mampu diberdayakan secara optimal.
Hasilnya, kini Singapura menjadi jauh lebih makmur daripada Indonesia yang
alamnya sangat kaya raya. Mengapa? Ya, itu tadi, karena bangsa kita lemah dalam
manajemennya.
Dapat dipahami pula bahwa kita tidak
berakhlak mulia bukan karena tidak punya potensi, tapi karena manajemen diri
kita yang masih buruk. Sungguh kita mampu mengelola otak kita menjadi cerdas,
membaca dengan kecepatan 400 kpm, memiliki daya ingat yang kuat, yakinlah itu
bisa dilakukan. Kita bisa kelola fisik sehingga mampu melakukan sebuah gerakan
bela diri demikian sempurna, pukulannya demikian akurat, tapi itu tidak cukup
kalau hatinya tidak dikelola dengan baik. Karena semua itu tidak akan memiliki
nilai positif jika hatinya tidak dikelola dengan baik. Begitulah. Hati
menentukan nilai; mulia atau hina. Jangan aneh bila ada orang cerdas, tapi
tidak mulia hidupnya. Bukan karena kurang cerdas, tapi kecerdasannya tidak
dibimbing oleh hatinya.
Oleh karena itulah, orang yang pandai
mengelola hatinya, ketika tiba-tiba, misalnya, dihina orang, dia akan kelola
penghinaan ini menjadi sesuatu yang mamfaat, “Ah, dia memang menghina, namun
siapa tahu penghinaan ini bagian dari karunia Allah untuk memberitahu
kekurangan saya, selain itu saya pun bisa melatih kesabaran, bedanya khan dia
baru bisa menghina, saya bisa mengatakan yang baik kepadanya.” Begitulah, sikap
terhadap hinaan ternyata bergantung manajemen qolbunya. Saat lain ia diuji
sedang sakit, lalu qolbunya kembali ia kelola dengan seoptimal-optimalnya.
“Sakit bagi saya adalah proses evaluasi diri, proses pengguguran dosa”,
demikianlah ia pahamkan dihatinya tentang makna sakit. Akibatnya, sakit menjadi
tidak menyengsarakan, melainkan penuh hikmah yang mendalam, karena dia berhasil
mengelola hatinya.
Lelah, tersinggung, terhina,
kekurangan uang, tertimpa penyakit, dan masih begitu banyak lagi masalah yang
akan membuat orang menjadi goyah, tapi kalau terkelola hatinya, subhanallaah,
ia akan tetap punya nilai produktif. Anehnya, banyak orang yang sangat sibuk
memikirikan kecerdasannya, memikirkan kesehatan fisiknya, tapi sangat sedikit
memikirkan kondisi hatinya. Kalaulah kita harus memilih, seharusnya kita banyak
meluangkan waktu untuk memikirkan tentang qolbu ini. Karena jika qolbu ini baik, yang lainnya pun menjadi
baik, Insya Allah.
siapa yang mau kelola hatinya ?
hayo…I!!!
semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar