Desember 27, 2007 · Disimpan dalam artikel
Siapapun
pasti mengidam-idamkan anaknya kelak menjadi anak yang sholeh. Untuk mewujudkan
keinginan ini hendaknya dilakukan beberapa hal:
Pertama,
hendaknya sejak anak masih berada di dalam kandungan, ibunya harus selalu
mengkonsumsi makanan yang halal. Jangan sekali-kali memakan dan meminum
sesuatu yang syubhat atau bahkan haram. Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Setiap
daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih berhak baginya.”
Jika seseorang itu hartanya tergolong syubhat misalnya,
maka hendaknya diupayakan agar harta syubhat itu tidak sampai dimakan, tapi
dipergunakan untuk kebutuhan yang lain, sebab makanan yang shubhat atau bahkan
haram itu pasti dapat menimbulkan dampak negatif pada jiwa orang yang
mengkonsumsinya. Diceritakan, “Suatu ketika Abu Yazid Al Busthami mengadu pada
ibunya perihal dirinya yang sudah beribadah kepada Allah SWT. selama kurang
lebih 40 tahun, tapi belum dapat merasakan nikmatnya beribadah. Beliau lalu
bertanya kepada ibunya, jangan-jangan ibunya pada waktu mengandung atau
menyusui dirinya dulu pernah mengkonsumsi makanan yang tidak halal. Ternyata
kekhawatiran Abu Yazid ini terbukti, ibunya tadi mengakui, bahwa pada masa
menyusui Abu Yazid dulu, saat naik ke loteng dia pernah meminum air susu satu
gelas tanpa mencari tahu dulu siapa yang memilikinya.”
Kedua, orang tua hendaknya senang dan cinta terhadap
orang-orang yang sholih, agar anaknya kelak tertulari kesholihan orang-orang
sholeh tersebut.
Ketiga, hendaknya orang tua selalu berdo’a kepada Allah
subhanahu Wata’ala agar anaknya ditakdir menjadi anak yang baik. Ada sebuah
ijazah do’a dari Kiai Romli, beliau mendapat ijazah dari Kiai Kholil Bangkalan,
Madura, yaitu:
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami termasuk orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan kami dan mereka termasuk orang-orang yang sengsara.”
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami termasuk orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan kami dan mereka termasuk orang-orang yang sengsara.”
Keempat, hendaknya orang tua mengajarkan anaknya untuk
mengenal Allah SWT, dimengertikan tentang tata cara beribadah, halal-haram,
hal-hal yang menyebabkan kemurtadan, dan lain-lain. Setelah itu anaknya mau
disekolahkan ke mana pun, terserah. Yang penting orang tua sudah menanamkan
pendidikan dasar agama yang kokoh.
Dalam persoalan mendidik anak ini, orang tua jangan hanya
memikirkan dan menghawatirkan anaknya dalam urusan dunia saja. Sebab jika
begini, sepertinya yang akan mati hanya orang tuanya semata. Justru yang harus
selalu diperhatikan dan dipikirkan oleh orang tua adalah bekal apakah yang akan
dibawa dirinya dan anaknya nanti ketika menghadap Allah SWT. sebagaimana yang
dilakukan oleh Nabi Ya’qub AS. menjelang ajalnya. Allah mengisahkan peristiwa
ini dalam Surah Al Baqarah, ayat 133:أ“Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan
(tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu
sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan
nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami
hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133).
Sebagai orang tua, kita jangan hanya memikirkan:“Apa yang
engkau makan setelah kepergianku?”. Jika orang tua memiliki anak yang sholeh,
maka dia tak ubahnya seseorang yang mempunyai usia panjang, meski umurnya
pendek sekalipun, karena setiap saat dia akan selalu memperoleh kiriman amal.
Kamis,
09 Agustus 2007 – oleh : admin http://www.langitan.net
Tidak ada komentar:
Posting Komentar