A.
SU’UDHON ( Prasangka Buruk ).
Pintu awal dari segala kotoran jiwa bermula dari sini.
Prasangka buruk kepada orang akan menghasilkan akibat sifat-sifat tercela yang
lainnya. Belajarlah positive thinking pada orang dan pada diri sendiri, jika
tidak anda telah membuka pintu hati kepada syetan. Dia akan masuk dan
menyebarkan virus-virus, yang berlanjut pada penyakit ;
$tBur ßìÎ7Gt óOèdçsYø.r& wÎ) $Zsß 4 ¨bÎ) £`©à9$# w ÓÍ_øóã z`ÏB Èd,ptø:$# $º«øx© 4 ¨bÎ) ©!$# 7LìÎ=tæ $yJÎ/ tbqè=yèøÿt
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan
saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai
kebenaran*. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (S.
Yunus : 36)
* sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali
tidak bisa mengantikan sesuatu yang diperoleh dengan ILMU.
$tBur Mçlm; ¾ÏmÎ/ ô`ÏB AOù=Ïæ ( bÎ) tbqãèÎ7Ft wÎ) £`©à9$# ( ¨bÎ)ur £`©à9$# w ÓÍ_øóã z`ÏB Èd,ptø:$# $\«øx©
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang
itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang. Sesungguhnya
persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (QS. Najm : 28 )
B.
GHIBAH ( pengumpat/ menjelek-jelekkan orang lain )
Nabi saw bersabda : “ Tahukah kamu seberat-berat riba disisi Allah ?”.
Sahabat menjawab : “ Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui.” Maka Nabi saw
bersabda : “ seberat-berat riba disisi Allah ialah menganggap halal mengumpat
kehormatan seorang muslim”.
Lalu Nabi saw membaca ayat yang artinya: “ Dan mereka
yang mengumpat orang mukmin laki-laki ataupun perempuan tanpa salah dan tidak
benar, berarti mereka telah membuat Buthan
(tuduhan palsu) dan dosa yang nyata.
Dalam riwayat lainnya Nabi saw mengatakan : “ jika menceritakan kejelekan
orang lain yang sesuai dan benar dengan keadaan orang itu, maka itulah Ghibah. Tapi jika tidak benar keteranganmu
itu, maka itu bernama Buthan yang lebih besar dosanya.
C.
NAMIMAH ( yang suka beradu domba ).
Sifat ini dibawah oleh orang-orang yang ber SDM (sumber daya manusia) yang
tinggi. Intelektual dibutuhkan karena misi adu domba membutuhkan kepintaran
dalam mengatur sebuah permusuhan, seperti pada politik. Semua data atau
perkataan orang disampaikan lagi kepada orang lain. Walaupun keterangan itu
benar adanya, tetapi jika itu tidak dapat diterima atau menyakitkan orang yang
dituju atau ikut campur dalam urusan pribadinya. Tetap saja akan menghasilkan
sebuah pertentangan, marah, su’dhon yang pada akhirnya terjadi pertengkaran.
Namimah ini juga bisa diartikan sebagai sifat / akhlak untuk menyebar
fitnah dan memecah belah suatu kaum, suatu ikatan keluarga, suatu majlis dan
lainnya.
Firman Allah
(S.Qalam:10-11)
wur ôìÏÜè? ¨@ä. 7$xym AûüÎg¨B ÇÊÉÈ :$£Jyd ¥ä!$¤±¨B
5OÏJoYÎ/
“ Dan janganlah kamu ikuti setiap
orang yang banyak bersumpah lagi hina.
Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”
Nabi saw bersabda, yang
artinya : “ Bukan dari golonganku (umatku) orang yang hasud dan orang yang
gemar memfitnah dan orang yang dedukunan dan akupun bukan daripadanya.
3 (tiga) sifat ini tercermin pada Firman Allah Ta’ala :
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# cÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( wur (#qÝ¡¡¡pgrB wur =tGøót Nä3àÒ÷è/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtär& óOà2ßtnr& br& @à2ù't zNóss9 ÏmÅzr& $\GøtB çnqßJçF÷dÌs3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§ ÇÊËÈ
”Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan Buruk-sangka (Su’udhon), Karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. dan
janganlah mencari-cari keburukan orang (Ghibah)
dan janganlah menggunjingkan satu sama lain (Namimah). Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.” (S.Hujurat : 12)
D.
HASAD
(iri hati)
Orang yang
mempunyai sifat hasud selalu merasa tidak senang terhadap kelebihan orang lain,
bahkan membencinya. Hingga saking besarnya sifat hasudnya , mengharapkan agar
nikmat yang dirasakan orang lain itu hilang lenyap, lalu mengalir padanya.
Hatinya yang hitam selalu menginginkan agar didunia ini hanya dia yang paling
berkuasa, paling kaya paling terhormat.
Penyakit hasud
ini, bagaikan titik api pada sekam atau pada rokok. Sedikit demi sedikit titik
api itu akan menjalar yang makin lama akan menghabiskan amal & ibadah kita
selama ini. Berpikirlah, amal ibadah yang begitu sulit kita kerjakan, akan
musnah hanya dengan Hasad (iri). Apa yang keuntungannya kita mempunyai iri.
Selekaslah buang. Ganti dengan yang baik.
Nabi saw
bersabda yang artinya : “Hasud dapat memakan segala kebaikkan bagaikan api
makan kayu”. (riwayat Ibnu Majah)
Dalam riwayat
lain: “Hasud dapat merusak iman, bagaikan jadam merusak madu”. (riwayat
Dailani)
Nabi saw bersabda
: “ Telah menjalar padamu penyakit-penyakit umat-umat terdahulu sebelum kamu
yaitu hasud, saling membenci, padahal itu dapat mencukur rambut. Aku tidak
berkata itu dapat mencukur rambut, melainkan mencukur agama. Demi Allah yang
jiwaku di tangan-Nya, kamu tidak akan masuk surga sehingga cinta mencintai.
Sukakah aku tunjuki sesuatu jika kamu
kerjakan akan timbul rasa kasih saying diantaramu. Maka sebarkanlah salam di
antara kamu”. (riwayat Ahmad)
Menurut
pandangan orang-orang sufi, orang yang mempunyai sifat dan akhlak Hasad sebelum
mencapai maksudnya, telah terbinasakan iwanya oleh dirinya (nafsunya) sendiri,
seperti :
a. Mereka
akan menderita karena hatinya tertekan dan duka cita yang berlarut-larut. Disebabkan melihat orang yang di irikan masih
lebih baik, lebih kaya dari dirinya. Hingga terbawa dalam tidurnya menjadi
tidak nyenyak, terbawa makan & minum menjadi tidak enak. Menjadi benci yang
tidak terlampiaskan, tekanan makin besar dan pada akhirnya menjadi penyakit.
b. Jika
kebenaran bicara, orang yang hasud tadi akan mendapat cemoohan dan celaan dari
orang lain, baik tetangga maupun pergaulan sehari-hari.
c. Dia
akan mendapat kecelakaan yang tidak dapat ditolong.
d. Rahmat
dan hidayah Allah akan dicabut dari hatinya.
Firman Allah Ta’ala :
wur (#öq¨YyJtGs? $tB @Òsù ª!$# ¾ÏmÎ/ öNä3Ò÷èt/ 4n?tã <Ù÷èt/ 4 ÉA%y`Ìh=Ïj9 Ò=ÅÁtR $£JÏiB (#qç6|¡oKò2$# ( Ïä!$|¡ÏiY=Ï9ur Ò=ÅÁtR $®ÿÊeE tû÷ù|¡tGø.$# 4 (#qè=t«óur ©!$# `ÏB ÿ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ¨bÎ) ©!$# c%2 Èe@ä3Î/ >äó_x« $VJÎ=tã
“ Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa
yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian
yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka
usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka
usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
( S. An-Nisa’ : 32 )
E. HAQOD ( dengki / benci )
Penyakit Haqad (dengki) berasal dari penyakit Hasad (iri) yang dibiarkan
dan telah menjalar pada hati. Memuncak dan membakar menjadi kedengkian,
kebencian, keserakahan pada siapa yang diatasnya. Dalam hal harta, kesenangan,
gengsi, status dan lain-lain. Pada sifat haqad ini, mulai tertutup suatu
kebenaran. Demi melihat saudaranya hidup kaya, tetangga bisa mapan, teman yang
sukses, maka ia merasa muak dan benci dari hati hingga ke ubun-ubun. Tak
segan-segan ia memutuskan persaudaraan, tidak menyapa dan bertergur salam.
Tobat dan sadarilah wahai saudara-saudaraku, sebelum kau terpelosok jurang
kehancuran di dunia dan di akhirat. Jangan kau turuti, bisikkan-bisikkan nafsumu
ini.
F. KIBIR ( Sombong )
Kibir adalah
sombong yaitu sifat ke Akua an yang memuncak , merasa besar serta hebat
sendiri. Merasa tiada yang seperti dia. Merasa tiada yang mengalahkan dia.
Semua harus ada dibawahnya. Hingga orang-orang yang sombong menganggap semua
nikmat, semua kekayaan dan semua kelebihannya bukan berasal dari Allah. Tapi merasa dari dirinya sendiri. Dari kerja kerasnya.
Tanda dalam perbuatannya, orang-orang sombong, yaitu :
- Tampak angkuh dan cuek.
- Tak mau kalah dalam pembicaraan dan
ngomongnya tidak mau di sela.
- Tidak mau dikritik dan di salahkan.
- Walaupun dia tidak bisa mengatakan bisa.
- Tidak mau disaingi dalam beli sesuatu
dan dalam bisnis.
-
Ingin selalu pamer kekayaan.
Firman Allah Ta’ala :
wur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( y7¨RÎ) `s9 s-ÌørB uÚöF{$# Æs9ur x÷è=ö6s? tA$t6Ågø:$# ZwqèÛ ÇÌÐÈ
“ Dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi Ini dengan sombong, Karena Sesungguhnya kamu sekali-kali
tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi
gunung”.
Nabi saw bersabda, yang artinya : “Siapa yang merasa dirinya besar, lalu
sombong dalam jalannya, maka ia kan menghadap Allah sedangkan Allah murka
padanya (HR. Ahmad)
Sifat sombong ini dulu oleh Allah telah dicontohkan pada pembangkangan Iblis yang merasa sombong,
ketika oleh Allah disuruh sujud kepada Nabi Adam as. Ia menolak dan merasa lebih mulia dari Adam as. Ia
diciptakan dari api dan Adam dicipta dari tanah. Yang akhirnya, iblis
dibuang/dihina dikeluarkan dari syurga.
Oleh sebab itu, bercerminlah. Apa pada dirimu ada sifat Iblis ini. Jika
kau tidak tawadu’ (rendah hati) pada ulama’ atau orang-orang berilmu atau
orang-orang sholeh. Berarti pada dirimu ada sifat tersebut. Yang wajib sombong
itu adalah Allah, jika kita memakai sifat sombong ini, berarti kita melawan
Dia.
Firman Allah Ta’ala ( S. Luqman : 18), yang artinya :
wur öÏiè|Áè? £s{ Ĩ$¨Z=Ï9 wur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# w =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøèC 9qãsù
“ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu
dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.”
Macam-macam
kesombongan manusia di dunia:
1. Sombong dengan harta.
2.
Sombong dengan Ilmu dan amal.
3. Sombong dengan status /
pangkat.
4.
Sombong dengan kecantikan (postur tubuh)
5.
Sombong dengan keahlian, usaha dan
khtiyar.
6. Sombong dengan nasab
(keturunan).
7. Sombong dengan kesehatan.
G.
TAKABBUR
( Lupa diri )
Adalah hampir sama dengan sombong. Tapi lebih bersifat kecil tidak tampak
nyata. Hanya tampak pada omongannya. Orang yang bersifat Takabbur biasanya
meremehkan sesuatu yang sepele. Mulai dari urusan ibadah, urusan beramal,
urusan janji dan urusan keluarga. Mereka menganggap gampang, tapi tidak ada
realisasinya (kenyataan). Mereka takabur, karena menganggap bisa, mudah, kecil
dan mampu. Dalam hatinya selalu berkumandang “ Urusan itu kecil dan gampang “.
Dalam hal amal: “ Kalau bukan aku siapa, yang membantu”.
H.
UJUB ( merasa sempurna diri dari orang lain )
Sifat ujub ini menyerupai sifat sombong, tapi lebih halus. Sifat ini
terselubung pada hati sanubari. Hanya dirinya sendiri yang tahu. Dia menganggap
hal itu kebenaran. Dia merasa lebih sempurna dari orang lain, tapi dibalik itu,
sifat ini lebih bahaya daripada kesombongan yang tampak.
Tanda-tanda orang yang bersifat ujub :
1. Mudah
membanding-bandingkan yang satu dengan yang lainnya.
2. Mudah menghujat dan menjelekkan sesuatu yang dianggap
tidak sepaham. Selanjutnya dia menunjukkan & memamerkan dirinya.
3. Dalam hatinya selalu meremehkan seseorang.
I.
RIYA’ ( ingin
dipuji orang / memamerkan diri )
Orang yang mempunyai sifat riya’ dalam melakukan ibadah semata-mata ingin
dikagumi orang lain, ingin disanjung dan di puji. Di depan orang ia senantiasa
melakukan amalan yang baik dan kayaknya ia beribadah dengan sempurna, namun
jika orang lain tak melihat maka sifat jeleknya akan muncul kembali. Seringkali
kita tidak menyadari, bahwa apa yang kita lakukan dalam amal maupun ibadah niat
karena Allah tapi terselip sifat riya’ (ingin dipuji orang). Yang pada akhirnya
kita tidak mendapat apa-apa (pahala, hidayah & pintu qabul) kecuali capek
dan sia-sia.
Nabi saw bersabda : “Sesungguhnya
yang aku kuatirkan pada dirimu adalah syirik yang kecil (samar) yaitu riya’.
Kelak pada hari kiamat Allah akan berkata pada orang-orang yang berbuat riya’
dalam amal perbuatannya. Pergilah kami kepada orang-orang yang dahulu kamu
riya’ kepadanya di dunia. Lihatlah apakah
kamu bisa mendapatkan balasan pahala dari mereka?”
J. SUM’A ( cari-cari nama atau kemasyuran )
Siapapun manusia, jika ada jalan atau fasilitas
tersedia yang disertai SDM (sumber daya manusianya ) yang memadai ditambah ada
kesempatan, pasti dan jelas akan terbersit keinginan agar dirinya menjadi
terkenal, namanya harum dan kemashurannya terdengar dimana-mana. Bahkan bagi
orang-orang tertentu, ada yang sangat berambisi agar terkenal dan termashur
dengan menggunakan segala cara, sehingga tanpa ragu melakukan tindakan-tindakan
yang merugikan orang lain.
Hakikinya sebuah kemashuran atau terkenal akan datang
sendiri, jika sembodo (sesuai) dengan
ilmu, jasa atau hasil atau kemanfaatan orang tersebut kepada orang lain,
instansi, Negara atau kepada lainnya. Dengan kata lain Allah
akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan berakhlak mulia, tanpa
adanya rekayasa dari manusia itu sendiri.
Apa gunanya kemashuran, jika itu tidak layak disandang dan di akhirat kita
terhina. Allah Maha Tahu atas segalanya, jika Dia menghendaki hambanya terkenal
tidak sebegitu sulit, akan terangkatlah orang tersebut menjadi mulya.
K. BUKHUL
( Kikir )
Bukhul atau bakhil
yang artinya kikir bin pelit bin medit (jawa) adalah nyata sifat bawaan manusia
secara fitrahnya. Artinya pada diri setiap
manusia pasti ada sifat bakhil (kikir). Hal ini bersesuaian dengan firman Allah
Ta’ala : QS. Al Ma’aarij : 19-21
* ¨bÎ) z`»|¡SM}$# t,Î=äz %·æqè=yd ÇÊÒÈ #sÎ) çm¡¡tB ¤³9$# $Yãrây_ ÇËÉÈ #sÎ)ur çm¡¡tB çösø:$# $¸ãqãZtB ÇËÊÈ
“
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia
ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan (harta)
ia amat kikir.”
Suatu peringatan dan penegasan dari Allah Ta’aala, bahwa manusia mempunyai
sifat dominan dalam menerima kesusahan pasti berkeluh kesah. Dan apabila
mendapat kebaikan ( nikmat harta ) ia akan bersifat kikir.
Dua sifat ini telah ditanam oleh Allah, pada jiwa manusia. Sifat ini
menjadi sangat nyata, jika manusianya mempunyai sifat Hubbu Dunya (cinta dunia)
yang berlebih-lebihan ditambah dia berhasil atau sukses dan kaya.
Ingat dan camkan benar-benar, bagaimana Qarun yang kaya raya, karena
kekikirannya dibenamkan oleh Allah di bumi. Dan sahabat Rasulullah saw, yaitu
Tsa’labah, si miskin yang menjadi kaya yang akhirnya menjadi kikir dan lupa
diri. Yang kemudian oleh Rasulullah saw di sabda menjadi termasuk golongan
orang-orang yang celaka.
Dalam kenyataan
sehari-hari, sifat bakhil / kikir cenderung dimiliki oleh orang-orang yang
kaya. Mereka selalu beranggapan dan merasa sudah mengeluarkan zakat dan
sedekah. Jika suatu ketika diminta sedekah lagi, mereka akan berkata, “
sedekahku sudah banyak , aku sudah bersedekah disana, rutin tiap bulan,” dan
ada yang berdalih, “ sedekah yang paling utama, pada orang tua dan kerabat ,
baru kepada yang lainnya,” dan masih banyak alasan-alasan yang diberikan oleh
orang-orang kaya yang bakhil tersebut.
Dalam menyikapi hal ini dan penegasannya untuk sedekah tidak boleh ada
alasan apapun, selama kita ada (harta) dan pada saat itu kita membawa, segera
mungkin kau keluarkan, berapapun nilainya. Jika masih banyak alasan, tampak
jelas dia adalah Bakhil.
Seandainya kita tanya
kepada orang-orang kaya yang bakhil tersebut, “ Apakah banding rezki (harta)
yang diberikan oleh Allah, dengan zakat dan sedekahmu,”
“ Dulu ketika rezqimu
Rp. 10.000 kau mengeluarkan sedekah Rp. 1000 tidak merasa berat. Saat rezqimu
di tambah oleh Allah, menjadi Rp. 100.000 kau mengeluarkan Rp. 10.000 masih
enteng. Ketika rezqimu dilipatgandakan menjadi Rp. 1.000.000 kau mengeluarkan
Rp. !00.000 mulailah berkecamuk dadamu. Andaikan rezqimu menjadi Rp.
100.000.000, kau mengeluarkan sedekahmu sebesar Rp. 10.000.000, yang jelas
seribu kali mikir dan seribu kali ambil nafas”
Bayangkan lagi, setiap orang ingin mendapat rezqi tiap hari, kalau bisa
tiap jam. Sampai-sampai usaha apapun hingga ngelembur dilakukan. Yang penting
income (pemasukan) bertambah banyak. Tapi aneh bin nyata, dalam urusan sedekah
mereka tidak mau tiap hari. Sedangkan kita minta kepada Allah, agar diberikan
rezqi yang banyak dan luas, tapi
perintah zakat & sedekah, mereka melupakannya dengan sengaja, dikarenakan
sifat kikirnya.
Harta benda dan segala kebaikkan dunia yang menyilaukan kerapkali akan
mengikat hati manusia. Terutama dalam pencapaian menjadi kaya, begitu susah dan
sengsaranya, hingga terbesit sifat sayang (eman-jawa) pada harta yang dicari
dengan susah payah tersebut, kenapa diberikan atau disedekahkan. Dia lupa
dengan perintah Allah, tentang sedekah, tentang membelanjakan hartanya di
jalan-Nya. Makin dia kikir dan makin lama sifat rakus untuk menumpuk kekayaan
akan menjadi-jadi Perhitungan dalam mengeluarkan zakat, sedekah dan membantu
orang lain.
Allah berfirman yang artinya :
“ Janganlah orang yang
kikir dengan pemberian Tuhan yang berlimpah-limpah menyangka bahwa yang
demikian itu baik bagi mereka, tetapi sebaliknya yang demikian itu merupakan
kejahatan baginya, karena pada hari kiamat ia akan dipikulkan kekikirannya itu
sebagai suatu beban yang amat berat diatas pundaknya.”
Allah berfirman, QS. Al
Israa’ : 29
wur ö@yèøgrB x8yt »'s!qè=øótB 4n<Î) y7É)ãZãã wur $ygôÜÝ¡ö6s? ¨@ä. ÅÝó¡t6ø9$# yãèø)tFsù $YBqè=tB #·qÝ¡øt¤C ÇËÒÈ
“
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu ( kikir ) dan janganlah kamu terlalu
mengulurkannya ( boros ), karena itu
kamu menjadi tercela dan menyesal.”
Ini adalah peringatan bagi orang-orang yang kikir, yang
oleh Allah dikiaskan “tangan yang terbelenggu pada leher” dan orang-orang yang
boros ( membelanjakan harta secara berlebih-lebihan bukan untuk sedekah atau
infaq, tapi untuk diri sendiri dan keluarga. Seringkali juga untuk hal-hal
maksiyat ) oleh Allah ditegaskan dengan firmanNya ; QS. Al Israa : 27:
¨bÎ) tûïÍÉjt6ßJø9$#
(#þqçR%x.
tbºuq÷zÎ)
ÈûüÏÜ»u¤±9$#
(
tb%x.ur ß`»sÜø¤±9$# ¾ÏmÎn/tÏ9 #Yqàÿx. ÇËÐÈ
“ Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara saudara
syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Dua
sifat ini oleh Allah akan menjadikan sesuatu yang tercela dan menyesal. Kalau
kita tilik dengan seksama akan nyatalah apa yang maksud ayat diatas. Sifat
bakhil/kikir akan menghasilkan sifat tercela dan menyesal, seperti :
-
Tidak disukai dalam pergaulan dan
bermasyarakat.
-
Selalu diomong (dirasani-jw) karena
kekikirannya.
-
Mempunyai
teman sedikit.
-
Jika ada kesusahan, tidak ada yang
menolongnya.
-
Hidupnya tiada pernah tenang, karena takut
hartanya berkurang. Yang pada akhirnya dia seakan-akan ingin menolong atau
sedekah tapi dengan embel-embel berbunga alias rentenir.
-
Selalu kurang dan takut kemiskinan.
-
Mau menolong yang penting menguntungkan
buat dirinya.
-
Pamrih
( ada timbal baliknya ).
Nabi saw bersabda : “ Jauhkan dirimu dari sifat kikir. Karena
yang demikian itu telah banyak membinasakan orang-orang sebelum kamu.”
Pada suatu hari Rasulullah saw ditanya orang, “ Siapakah yang layak disebut orang pemurah (loman-jawa)”. Lalu
beliau saw, berkata: “Orang pemurah itu
ialah orang yang mengeluarkan hak-hak Allah daripada hartanya, dan orang-orang
yang kikir itu ialah orang yang tidak sedia
mengeluarkan hak-hak Allah. Tidak pula dinamakan orang pemurah, jika ia
mengumpulkan harta bendanya dengan jalan haram dan mengeluarkan secara mewah.”
Makna Pemurah ( bukan boros ) adalah orang
yang suka membelanjakan hartanya di jalan Allah (infaq & waqaf untuk
masjid, tempat-tempat ilmu,dll ) sedekah untuk kerabat, teman, anak yatim dan
faqir miskin. Menolong siapapun yang membutuhkannya, baik materi maupun tenaga
tanpa pamrih karena Allah.
Dalam hal ini,
Allah memberikan arahan kepada siapa saja kita harus jadi pemurah, dalam
firman-Nya QS. Al Baqarah : 177.
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu
suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan
harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”
Allah berfirman, QS, An Nisaa’ : 36.
“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa,
karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
tetangga yang jauh*, dan teman sejawat, ibnu sabil* dan hamba sahayamu. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
*dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan
tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan
muslim.
* Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang
bukan ma'shiat yang kehabisan bekal. termasuk juga anak yang tidak diketahui
ibu bapaknya.
BAKHIL YANG BERLABEL
Dari sekian model dan jenis bakhil orang-orang
kaya, ada sejenis sifat bakhil yang berpoles dengan segala alasan, yang mana
seperti dituangkan oleh Allah dalam firman-Nya, QS. An Nisaa’ : 37
“ (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain
berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang Telah diberikan-Nya kepada
mereka. dan kami Telah menyediakan untuk orang-orang kafir* siksa yang
menghinakan.”
* maksudnya kafir terhadap nikmat Allah, ialah Karena
kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir. menyembunyikan karunia Allah berarti
tidak mensyukuri nikmat Allah.
Orang yang bakhil menyuruh orang lain
untuk berbuat bakhil.
Contoh : ketika ada pengemis, si A akan
memberikan sedekah. Tapi si B berkata, jangan kau kasih, karena pengemis itu
masih kuat bekerja. Nanti bikin dia malas.
Contoh : Ada seorang yang berkata pada
orang lain : “ Seorang ulama’ itu dalam mengajarkan ilmunya harus ikhlas, tanpa
melihat berapa isi amplop,” Apakah tidak
dibalik aja kalimat ini, “ kita ini harus ikhlash memberikan sedekah kepada
ulama itu, sebagai tanda syukur atas ilmu-ilmu yang diajarkan kepada kita.”
Contoh : Ada seorang berkata pada orang
lain, “ Sedekah itu tidak boleh dipaksa, harus dari hati. Mengapa harus ada
iuran infaq segala. Cukup pakai kotak amal saja.”
Menyembunyikan Karunia Allah yang telah
diberikan.
Orang-orang kaya yang sangat-sangat bakhil
alias kikir, akan selalu menyembunyikan segala nikmat yang mereka peroleh dari
orang lain dengan berkeluh kesah. Sehingga mereka dianggap tidak punya
uang. Tujuannya tidak ada lain agar tidak ada yang datang
minta bantuan ( minta atau pinjam uang).
Nikmat yang dia dapat, tidak boleh ada
yang tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar