Stories of Shahabiah
Khadijah Binti Khuwailid
1. Ummul Mukminin Khadijah Binti Khuwailid radhiallahu 'anha
2. Ummul Mukminin Saudah Binti Zam'ah radhiallahu 'anha
3. Ummul Mukminiin Hafshoh binti 'Umar radhiallaahu 'anha
4. Ummul Mukminin Juwairiyah Binti al-Harits radhiallaahu anha
5. Ummul Mukminiin Maimunah Binti Al-Harits radhiallaahu 'anha
6. Ummul Mukminin Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan
7. Ummul Mukminiin Shafiyyah Binti Huyai -radhiallaahu 'anha
8. Ummul Mukminiin Ummu Salamah -radhiallaahu 'anha
9. Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy -radhiallaahu 'anha
10. Ummul Mukminiin Maimunah Binti Al-Harits -radhiallaahu 'anha
11. Putra-Putri Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
12. Sayyidah Fatimah AzZahra
13. Ummu Hani' bintu Abi Thalib Al-Hasyimiyyah Radhiallohu 'anha
14. Ummu Haram Binti Malhan -radhiallaahu 'anha
15. Ummu Sulaim binti Malhan -radhiallaahu 'anha
16. Ummu Umarah RadhiAllohu ‘anha
17. Sumayyah binti Khayyat -radhiallaahu 'anha
18. Asma` Binti 'Umais -radhiallaahu 'anha
19. Asma` Binti Yazid Bin Sakan -radhiallaahu 'anha
20. Asma` Binti Asad Al-Furat
Catatan1hati17an
Kumpulan Catatan Kisah-Kisah Rasulullah saw - Para Sahabat Shahabiah ra - Para Nabi Rasul - Para Auliya' - Habaib - Ulama' Sholeh - Tentang Qolbi - Tentang Akhlaq & Etika - Penyucian Hati - Penyakit Hati - Tentang Rezeqi - Tentang Cinta - Tentang Keluarga
Selasa, 16 Juli 2013
Senin, 15 Juli 2013
Khadijah Binti Khuwailid
Khadijah
Binti Khuwailid ra
Dari: "Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah
SAW" karangan Muhammad Ibrahim Saliim.
Diketik oleh: Hanies Ambarsari.
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki
Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri
di belakang da'wah Islamiah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada
pemimpinnya, Muhammad SAW: Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Oleh
karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak
menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu'minin, sebaik-baik isteri dan teladan
yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.
Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW
sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua
Hira'. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW
berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang
menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat
dengan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda: "Khadijah
beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika
orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang
tidak memberiku apa-apa."
Kenapa kita bersusah payah mencari
teladan di sana-sini, pada- hal di hadapan kita ada "wanita terbaik di
dunia," Khadijah binti Khu- wailid, Ummul Mu'minin yang setia dan taat,
yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat
sebelum diangkat men- jadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah mendahului semua orang dalam
beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa,
harta dan keluarga. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya
dengan se- baik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam
is- tananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hi-
dupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi
SAW, dia berkata: "Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang
membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang
kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan
kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di
dalamnya dan tidak ada kepayahan." [HR. Bukhari dalam "Fadhaail
Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata: "Keshahihannya telah
disepakati."]
Bukankah istana ini lebih baik
daripada istana-istana di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia?
Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita
pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu'min yang orang pertama yang
beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji
bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia
habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan
Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para
wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah r.a.
adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun
kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca
ayat- ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia
menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke
kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak
maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara
jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu
maupun penolong.
Nabi SAW tetap dalam sikap yang
demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada
Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika
melihatnya, Khadijah berkata: "Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim? Demi
Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di
Mekkah, kemudian kembali kepadaku." Maka Rasulullah SAW menceritakan
kisahnya kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata: "Gembiralah
dan teguhlah, wahai, putera pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh
aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini." Nabi SAW tidak mendapatkan
darinya, kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan
dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang
menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau
penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan
kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya
wanita ideal.
Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah
SWT telah mengirim salam kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan
salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya: "Sampaikan kepada
Khadijah salam dari Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai
Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu." Maka
Khadijah r.a. menjawab: "Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan),
dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan
salam (kesejahteraan)."
Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang
tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama
masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a.
pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang
mendukung da'wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat
Allah yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama
seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolong- nya
di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut
serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan
jiwa dan hartanya.
Rasulullah SAW bersabda: "Khadijah
beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika
orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika
orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan
mengharamkan bagiku anak dari selain dia." [HR. Imam Ahmad dalam
"Musnad"-nya, 6/118]
Diriwayatkan dalam
hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: "Jibril datang kepada
Nabi SAW, lalu berkata: "Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang
membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang
kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya
tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut
di dalamnya dan tiada kepayahan." [Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi
SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]
1. Ummul Mukminin Khadijah Binti Khuwailid radhiallahu 'anha
Ummul Mukminin
Khadijah Binti Khuwailid
radhiallahu 'anha
Sang Kekasih yang selalu dikenang jasanya. Pengorbanan
Tiada Tara dalam membantu Rasulullah saw menegakkan Agama Islam
Beliau adalah seorang sayyidah
(junjungan) wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin
Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki
ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di
rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun
gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya
beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai
seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah
banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.
Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu
Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah
dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin 'A'id bin
Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.
Setelah itu banyak dari para
pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan
perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan
yang mana beliau menjadi seorang yang kaya raya. Suatu ketika, beliau mencari
orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang
Muhammad sebelum bi'tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur,
amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk
menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah.
Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa
oleh selainnya.
Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan
berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya
tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil
yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya
terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu.
Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum
pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagamana kebanyakan
laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.
Akan tetapi dia merasa pesimis;
mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40
tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka
Quraisy yang melamarnya? Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem
yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama
Nafisah binti Munabbih, selanjutnya
dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia
yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam
kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya
dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat,
keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan
banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.
Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar
dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah
dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya:
Nafisah : Apakah yang menghalangimu
untuk menikah wahai Muhammad ?
Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa
untuk menikah.
Nafisah : (Dengan tersenyum berkata)
Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan
berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya ?
Muhammad : Siapa dia ?
Nafisah : (Dengan cepat dia
menjawab), Dia adalah Khadijah binti
Khuwailid .
Muhammad : Jika dia setuju maka akupun
setuju.
Nafisah pergi menemui Khadijah untuk
menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan
kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah
Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman
Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra
saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.
Setelah usai akad nikah, disembelihlah
beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah
membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka terdapat
Halimah as-Sa'diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya.
Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai
hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui
Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.
Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai
istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling
utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan
suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin
Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga
tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib,
maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu
'anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu 'alaihi
wasallam .
Allah memberikan karunia pada rumah
tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan
mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah,
Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.
Kemudian Allah Ta'ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai
Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari
pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di
Gua Hira' sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya
beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang
dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.
Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa
tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya,
tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun
mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya
untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus
dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam
pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh.
Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya
yang sedang menyendiri.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasallam tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah kehendaki,
kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau
di dalam gua Hira' pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa
wahyu.Selanjutnya beliay Nabi Saw keluar dari gua menuju rumah beliau dalam
kegelapan fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata:
"Selimutilah aku ….selimutilah aku …".
Setelah Khadijah meminta keterangan
perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau
menjawab:"Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku".
Maka Istri yang dicintainya dan yang
cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata:
"Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra
pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku
berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan
menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi,
memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku
kebenaran.
Maka menjadi tentramlah hati Nabi
berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari
istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa.
Namun hal itu belum cukup bagi seorang
istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui
putra pamannya yang bernama waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan
perihal yang terjadi pada Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam . Maka tiada
ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: "Qudus….Qudus…..Demi
yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku
benar,maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada
Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara langsung.Tatkala melihat kedatangan
Nabi, sekonyong-konyong Waraqah berkata: "Demi yang jiwaku ada
ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah
mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan
memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong
dien Allah ". Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya.
Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Apakah mereka akan
mengusirku?". Waraqah menjawab: "Betul, tiada seorang pun yang
membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya.
Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…".
Tidak beberapa lama kemudian Waraqah wafat.
Menjadi tenanglah jiwa Nabi
Shallallahu 'alaihi wasallam tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau
mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak
rintangan dan beban.
Beliau juga menyadari bahwa itu adalah
sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka
beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul
Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.
Adapun Khadijah adalah seorang yang
pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk
Islam.
Beliau adalah seorang istri Nabi yang
mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu
'alaihi wasallam yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya
serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga
dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan
sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan
beliau Shallallahu 'alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui
istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan
pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya
celaan manusia pada beliau Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan ayat-ayat
Al-Qur'an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:
"Hai orang-orang yang berkemul
(berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan
pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu
memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk
(memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!"
(Al-Muddatstsir:1-7).
Sehingga sejak saat itu Rasulullah
yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau
katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan
bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu 'anha turut mendakwahkan
Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat
putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.
Mulailah ujian yang keras menimpa kaum
muslimin dengan berbagai macam bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak
sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta'ala:
"Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman' , sedangkan mereka
tidak diuji lagi?" . (Al-'Ankabut:1-2).
Allah memilih kedua putranya yang
pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih
kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata
kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi
sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang
pencipta dengan penuh kemuliaan.
Beliau juga harus berpisah dengan
putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan
radhiallâhu 'anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan
diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu
yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata
putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang
difirmankan Allah Ta'ala: "Kamu
sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu
sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum
kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang
menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang
demikian itu termasuk urusan yang di utamakan ". (Ali Imran:186).
Sebelumnya, beliau juga telah
menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang
mana beliau berdakwah di jalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah
dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran
dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu
yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau
bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan kebenaran
yang belum pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya
walau selangkah semut. Beliau bersabda: "Demi Allah wahai paman!
seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di
tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku
tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenannya".
Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut
telah mengambil suaminya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai contoh
yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman.
Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan
pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik,
ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut
kemudian mereka tempel pada dinding ka'bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung
dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung
halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan
orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh
dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala.
Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan
tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala
kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam
bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian
menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun
sebelum hijrah.
Dengan wafatnya Khadijah maka
meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.
Begitulah Nafsul Muthmainnah telah
pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan,
setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam
berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalalm hubungannya, beliau
menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan
sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan
keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari
Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari
emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya.
Karena itu pula Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik wanita adalah Maryam
binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid".
Ya Allah ridhailah Khadijah binti
Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus,
mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari
perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena
jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.
2. Ummul Mukminin Saudah Binti Zam'ah radhiallahu 'anha
Ummul Mukminin
Saudah Binti Zam'ah radhiallahu 'anha
Seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan
posisi Sayyidah Khadijah ra- Seorang isteri yang merelakan haknya.
Beliau adalah
Saudah binti Zam'ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud Al-Quraisyiyah
Al-Amiriyyah. Ibunya bernama Asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari bani
Najjar. Beliau juga seorang Sayyidah yang mulia dan terhormat. Sebelumnya
pernah menikah dengan As-Sakar bin Amru saudara dari Suhair bin Amru Al-Amiri.
Suatu ketika
beliau bersama delapan orang dari bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman
dan hartanya, kemudian menyebrangi dasyatnya lautan karena ridha menghadapi
maut dalalm rangka memenangkan diennya. Semakin bertambah siksaan dan
intimidasi yang mereka karena mereka menolak kesesatan dan kesyirikan.
Hampir-hampir tiada hentinya ujian menimpa Saudah belum usai ujian tinggal
dinegeri asing (Habsyah) beliau harus kehilangan suami beliau sang muhajirin.
Maka beliaupun menghadapi ujian menjadi seorang janda disamping juga ujian
dinegeri asing.
Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam menaruh perhatian yang istimewa terhadap wanita
muhajirah yang beriman dan telah menjanda tersebut. Oleh karena itu tiada
henti-hentinya Khaulah binti Hakim as-Salimah menawarkan Saudah untuk beliau
hingga pada gilirannya beliau mengulurkan tangannya yang penuh rahmat untuk
Saudah dan beliau mendampinginya dan membantunya menghadapi kerasnya kehidupan.
Apalagi umurnya telah mendekati usia senja sehingga membutuhkan seseorang yang
dapat menjaga dan mendampinginya.
Telah tercatat
dalam sejarah tak seorangpun sahabat yang berani mengajukan masukan kepada
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang pernikahan beliau setelah
wafatnya Ummul Mukminin ath-Thahirah yang telah mengimani beliau disaat menusia
mengkufurinya dan menyerahkan seluruh hartanya disaat orang lain menahan
berntuan terhadapnya dan bersamanya pula Allah mengkaruniakan kepada Rasul
putra-putri.
Akan tetapi
hampir-hampir kesusahan menjadi berkepanjangan hingga Khaulah binti Hakim
memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut dan
ramah:
Khaulah : Tidakkah anda ingin menikah ya Rasulullah?
Nabi : (Beliau
menjawab dengan suara yang menandakan kesedihan) dengan siapa saya akan menikah
Setelah dengan Khadijah?
Khaulah : jika
anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.
Nabi : jika
dengan seorang gadis,siapakah gadis tersebut ?
Khaulah :
Putri dari orang yang anda cintai yakni Aisyah binti Abu Bakar.
Nabi : (
Setelah beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam diam untuk beberapa saat kemudian
bertanya) jika dengan seorang janda ?
Khaulah : Dia
adalah Saudah binti Zam'ah, seorang wanita yang telah beriman kepada anda dan
mengikuti yang anda bawa (risalah).
Beliau
menginginkan Aisyah akan tetapi
terlebih dahulu beliau nikahi Saudah
binti Zam'ah yang mana dia menjadi satu-satunya isteri ( beliau setelah
wafatnya Khadijah ) selama tiga tahun atau lebih baru kemudian masuklah Aisyah
dalam rumah tangga Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Orang-orang di
Makkah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam'ah. Mereka
bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang
janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi
Sayyidah wanita Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para
pembesar-pembesar diantara mereka.
Akan tetapi
kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tidak dapat
menggantikan posisi Khadijah, akan tetapi hal itu adalah, kasih sayang dan
penghibur hati adalah menjadi rahmat bagi beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam
yang penuh kasih.
Adapun Saudah
radhiallaahu 'anha mampu untuk menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah
dan melayani putri-putri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan mendatangkan
kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan
ringannya ruhnya dan sifat periangnya dan ketidaksukaannya terhadap beratnya
badan.
Setelah tiga tahun rumah tangga
tersebut berjalan maka masuklah Aisyah dalam rumah tangga Nubuwwah, disusul kemudian
istri-istri yang lain seperti Hafsah, Zainab, Ummu Salamah dan lain-lain.
Saudah
radhiallaahu 'anha menyadari bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak
mengawininya dirinya melainkan karena kasihan melihat kondisinya setelah
kepergian suaminya yang lama. Dan bagi beliau hal itu telah jelas dan nyata
tatkala Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam ingin menceraikan beliau dengan
cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya, namun Nabi merasa bahwa hal
itu akan menyakiti hatinya.
Tatkala Nabi
mengutarakan keinginannya untuk menceraikan beliau, maka beliau merasa
seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dadanya, maka beliau
merengek dengan merendahkan diri berkata:
"Pertahankanlah
aku ya Rasulullah ! demi Allah tiadalah keinginanku diperistri itu karena
ketamakan saya akan tetapi hanya berharap agar Allah membangkitkan aku pada
hari kiamat dalam keadaan menjadi Istrimu.
Begitulah
Saudah radhiallaahu 'anha lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia,
maka beliau berikan giliran beliau kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan beliau radhiallaahu 'anha sudah tidak
memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.
Maka
Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut,
maka turunlah ayat Allah:
"Maka tidak mengapa bagi keduannya mengadakan perdamaian yang
sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik ( bagi mereka )." (An-Nisa':128).
Saudah
radhiallaahu 'anha tinggal dirumah tangga nubuwwah dengan penuh keridhaan dan ketenangan
dan bersyukur kepada Allah yang telah menempatkan posisinya disamping
sabaik-baik makhluk di dunia dan dia bersyukur kepada Allah karena mendapat
gelar ummul mukminin dan menjadi istri Rasul di jannah. Akhirnya wafatlah
Saudah radhiallaahu 'anha pada akhir pemerintahan Umar bin Khattab radhiallaahu
'anha.
Ummul mukminin
Aisyah radhiallaahu 'anha senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau
dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah berkata: "Tiada seorang
wanitapun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia melebihi
Saudah binti Zam'ah tatkala berusia senja yang mana dia berkata: "Ya
Rasulullah aku hadiahkan kunjungan anda kepadaku untuk Aisyah hanya saja beliau
berwatak keras"
ight:0cm;margin-bottom:0cm;margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;text-align:justify'>Shafiyyah r.a wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun,
ketika masa pemerintahan Mu'awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi' bersama
Ummuhatul mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua. 3. Ummul Mukminiin Hafshoh binti 'Umar radhiallaahu 'anha
Ummul Mukminiin
Hafshoh binti 'Umar radhiallaahu 'anha
Istri Rasulullah yang bergelar Shawwamah dan Qawwamah ( Wanita
yang rajin shaum dan shalat)
Beliau adalah
Hafsah putri dari Umar bin Khaththab, seorang shahabat agung yang melalui
perantara beliau-lah Islam memiliki wibawa. Hafshoh adalah seorang wanita yang
masih muda dan berparas cantik, bertaqwa dan wanita yang disegani.
Pada mulanya
beliau dinikahi salah seorang shahabat yang mulia bernama Khunais bin Khudzafah
bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy yang pernah berhijrah dua kali, ikut dalam perang
Badar dan perang Uhud namun setelah itu beliau wafat di negeri hijrah karena
sakit yang beliau alami waktu perang Uhud. Beliau meninggalkan seorang janda
yang masih muda dan bertaqwa yakni Hafshoh yang ketika itu masih berumur 18
tahun.
Umar benar-benar merasakan gelisah dengan adanya keadaan putrinya yang menjanda dalam keadaan masih muda dan beliau masih merasakan kesedihan dengan wafatnya menantunya yang dia adalah seorang muhajir dan mujahid. Beliau mulai merasakan kesedihan setiap kali masuk rumah melihat putrinya dalam keadaan berduka. Setelah berfikir panjang maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya sehingga dia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala dia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali.
Akhirnya pilihan Umar jatuh pada Abu Bakar Ash Shidiq radhiallaahu 'anhu orang yang paling dicintai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam karena Abu Bakar dengan sifat tenggang rasa dan kelembutannya dapat diharapkan membimbing Hafshoh yang mewarisi watak bapaknya yakni bersemangat tinggi dan berwatak tegas.
Maka segeralah Umar menemui Abu Bakar
dan menceritakan perihal Hafshoh berserta ujian yang menimpa dirinya yakni
berstatus janda. Sedangkan ash-Shiddiq memperhatikan dengan rasa iba dan belas
kasihan. Kemudian barulah Umar menawari Abu Bakar agar mau memperistri
putrinya. Dalam hatinya dia tidak ragu bahwa Abu Bakar mau menerima seorang
yang masih muda dan bertaqwa, putri dari seorang laki-laki yang dijadikan oleh
Allah penyebab untuk menguatkan Islam.
Namun ternyata Abu Bakar tidak
menjawab apa-apa. Maka berpalinglah Umar dengan membawa kekecewaan hatinya yang
hampir-hampir dia tidak percaya (dengan sikap Abu Bakar). Kemudian dia
melangkahkan kakinya menuju rumah Utsman bin Affan yang mana ketika itu istri
beliau yang bernama Ruqqayah binti Rasulullah telah wafat karena sakit yang
dideritanya.
Umar menceritakan perihal putrinya kepada Utsman dan menawari agar mau menikahi putrinya, namun beliau menjawab: "Aku belum ingin menikah saat ini". Semakin bertambahlah kesedihan Umar atas penolakan Utsman tersebut setelah ditolak oleh Abu Bakar. Dan beliau merasa malu untuk bertemu dengan salah seorang dari kedua shahabatnya tersebut padahal mereka berdua adalah kawan karibnya dan teman kepercayaannya yang faham betul tentang kedudukannya.
Kemudian beliau menghadap Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan mengadukan keadaan dan sikap Abu Bakar
maupun Utsman. Maka tersenyumlah Rasulllah Shallallaahu 'alaihi wa sallam
seraya berkata:
"Hafshoh
akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman sedangkan
Ustman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshoh ( yaitu putri beliau Ummu Kultsum radhiallaahu
'anha-red )"
Wajah Umar bin Khaththab berseri-seri
karena kemuliaan yang agung ini yang mana belum pernah terlintas dalam
angan-angannya. Hilanglah segala kesusahan hatinya, maka dengan segera dia
menyampaikan kabar gembira tersebut
kepada setiap orang yang dicintainya sedangkan Abu Bakar adalah orang yang
pertama kali beliau temui.
Maka tatkala Abu Bakar melihat Umar
dalam keadaan gembira dan suka cita maka beliau mengucapkan selamat kepada Umar
dan meminta maaf kepada Umar sambil berkata "janganlah engkau marah
kepadaku wahai Umar karena aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wa sallam menyebut-nyebut Hafshoh. Hanya saja aku tidak ingin membuka rahasia
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam; seandainya beliau menolak Hafshoh
maka pastilah aku akan menikahinya.
Maka Madinah mendapat barokah dengan
indahnya pernikahan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan Hafshoh binti
Umar pada bulan Sya'ban tahun ketiga Hijriyah. Begitu pula barokah dari
pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum binti Muhammad Shallallaahu
'alaihi wa sallam pada bulan Jumadil Akhir tahun ketiga Hijriyah juga.
Begitulah, Hafshoh bergabung dengan
istri-istri Rasulullah dan Ummahatul mukminin yang suci. Di dalam rumah tangga Nubuwwah ada istri selain beliau yakni Saudah dan
Aisyah. Maka tatkala ada kecemburuan beliau (Hafshoh) mendekati Aisyah
karena dia lebih pantas dan lebih layak untuk cemburu. Beliau senantiasa
mendekati dan mengalah dengan Aisyah mengikuti pesan bapaknya (Umar) yang
berkata:
"Betapa kerdilnya engkau (Hafshoh)
bila dibanding dengan Aisyah dan betapa kerdilnya ayahmu ini apabila
dibandingkan dengan ayahnya (Rasulullah)".
Hafshoh
dan Aisyah pernah menyusahkan Nabi, maka turunlah ayat :
"Jika
kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah
condong untuk menerima kebaikan dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan
Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula)
Jibril" (Q.S. at-Tahrim: 4).
Telah diriwayatkan bahwa Nabi
Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah mentalak sekali untuk Hafshoh tatkala
Hafshoh dianggap menyusahkan Nabi namun beliau rujuk kembali dengan perintah
yang dibawa oleh Jibril 'alaihissalam yang mana dia berkata: "Dia adalah seorang wanita yang
rajin shaum, rajin shalat dan dia adalah istrimu di surga".
Hafshoh pernah merasa bersalah karena
menyebabkan kesusahan dan penderitaan Nabi dengan menyebarkan rahasianya namun
akhirnya menjadi tenang setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam
memaafkannya.
Kemudian Hafshoh hidup bersama Nabi
dengan hubungan yang harmonis sebagai seorang istri bersama suaminya. Manakala
Rasul yang mulia menghadap ar-Rafiiq al-A'la dan Khalifah dipegang oleh Abu
Bakar ash-Shiddiq, maka Hafshoh- lah yang dipercaya diantara Ummahatul Mukminin
termasuk Aisyah didalamnya, untuk menjaga mushaf Al-Qur'an yang pertama.
Hafshoh radhiallaahu 'anha mengisi
hidupnya sebagai seorang ahli ibadah dan ta'at kepada Allah, rajin shaum dan
juga shalat, satu-satunya orang yang dipercaya untuk menjaga keamanan dari
undang-undang umat ini, dan kitabnya yang paling utama yang sebagai mukjizat
yang kekal, sumber hukum yang lurus dan 'aqidahnya yang utuh.
Ketika ayah beliau yang ketika itu
adalah Amirul mukminin merasakan dekatnya ajal setelah ditikam oleh Abu
Lu'lu'ah seorang Majusi pada bulan Dzulhijjah tahun 13 hijriyah, maka Hafshoh
adalah putri beliau yang mendapat wasiat yang beliau tinggalkan.
Hafshoh wafat pada masa Mu'awiyah bin
Abu Sufyan radhiallaahu 'anhu setelah memberikan wasiat kepada saudaranya yang
bernama Abdullah dengan wasiat yang diwasiatkan oleh ayahnya radhiallaahu
'anhu.
Semoga Allah meridhai beliau karena beliau telah menjaga al-Qur'an al-
Karim, dan beliau adalah wanita yang disebut
Jibril sebagai Shawwamah dan Qawwamah (Wanita yang rajin shaum dan shalat) dan
bahwa beliau adalah istri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam di surga
nguage:DE'>Sungguh beliau berhak menyandang
segala kebesaran dan keagungan sebagai Ummul Mukminin, Ummu Habibah
radhiallaahu 'anhuma. Seandainya para wanita itu seperti beliau niscaya
hasilnyapun seperti yang terjadi pada beliau.
Setelah Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa sallam menghadap ar-Rafiiqul A'la, Ummu Habibah melazimi rumahnya.
Beliau tidak keluar rumahnya kecuali untuk shalat dan beliau tidak meninggalkan
Madinah kecuali untuk haji hingga sampailah waktu wafat yang di tunggu-tunggu
tatkala berumur tujuh puluhan tahun. Beliau wafat setelah memberikan
keteladanan yang paling tinggi dalam menjaga kewibawaan diennya dan bersemangat
atasnya, tinggi dan mulya jauh dari pengaruh jahiliyah dan tidak menghiraukan
nasab manakala bertentangan dengan aqidahnya, semoga Allah meridhainya.
4. Ummul Mukminin Juwairiyah Binti al-Harits radhiallaahu anha
Ummul Mukminin
Juwairiyah Binti al-Harits radhiallaahu anha
Pernikahannya
dengan Rasulullah saw menjadikan dia sebagai Wanita yang membawa berkah untuk
kaumnya, keluarganya dan bagi orang – orang yang dicintainya
Beliau adalah Juwairiyah Binti
al-Harits Bin Abi Dhirar bin al-Habib al-Khuza’iyah al-Mushthaliqiyyah. Beliau
adalah secantik-cantik seorang wanita. Beliau termasuk wanita yang ditawan
tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada saat perang Muraisi’.
Hasil Undian Juwairiyyah adalah bagian
untuk Tsabit Bin Qais bin syamas atau anak pamannya, tatkala itu Juwairiyyah
berumur 20 tahun. Dan akhirnya beliau selamat dari kehinaan sebagai
tawanan/rampasan perang dan kerendahannya.
Beliau menulis untuk Tsabit bin Qais (
bahwa beliau hendak menebus dirinya), kemudian mendatangi Rasulullah
Shallallâhu ‘alaihi wa sallam agar mau menolong untuk menebus dirinya. Maka
menjadi iba-lah hati Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melihat kondis seorang
wanita yang mulanya adalah seorang sayyidah merdeka yang mana dia memohon
beliau untuk mengentaskan ujian yang menimpa dirinya.
Maka beliau bertanya kepada
Juwairiyyah: ”Maukah engkau mendapatkan hal yang lebih baik dari itu ?”.
Maka dia menjawab dengan sopan:
”Apakah itu Ya Rasulullah ?”.
Beliau menjawab: ”Aku tebus dirimu
kemudian aku nikahi dirimu!”.
Maka tersiratlah pada wajahnya yang
cantik suatu kebahagiaan sedangkan dia hampir-hampir tidak perduli dengan
kemerdekaan dia karena remehnya. Beliau menjawab:”Mau Ya Rasulullah”.
Maka Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa
sallam bersabda:” Aku telah melakukannya”.
‘Aisyah, Ummul Mukmini berkata:
”Tersebarlah berita kepada manusia bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa
sallam telah menikahi Juwairiyyah binti al-Harits bin Abi Dhirar.
Maka orang-orang berkata: ” Kerabat
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam ! Maka mereka lepaskan tawanan perang
yang mereka bawa, maka sungguh dengan pernikahan beliau Shallallâhu ‘alaihi wa
sallam dengan Juwairiyyah manjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga dari
Bani Mushthaliq. Maka aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang lebih
berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyyah.
Dan Ummul Mukminin ‘Aisyah
menceritakan perihal pribadi Juwairiyyah: ”Juwairiyyah adalah seorang wanita
yang manis dan cantik, tiada seorangpun yang melihatnya melainkan akan jatuh
hati kepadanya. Tatkala Juwairiyyah meminta kepada Rasulullah untuk membebaskan
dirinya sedangkan –demi Allah- aku telah melihatnya melalui pintu kamarku, maka
aku merasa cemburu karena menduga bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa
sallam akan melihat sebagaimana yang aku lihat.
Maka masuklah pengantin wanita,
Sayyidah Bani Mushthaliq kedalam rumah tangga Nubuwwah. Pada Mulanya, nama
Beliau adalah Burrah namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam
menggantinya dengan Juwairiyyah karena khawatir dia dikatakan keluar dari biji
gandum.
Ibnu Hajar menyebutkan di dalam
kitabnya, al-Ishabah tentang kuatnya keimanan Juwairiyyah radhiallaahu ‘anha.
Beliau berkata: ”Ayah Juwairiyyah mendatangi Rasul dan berkata: ”Sesungguhnya
anakku tidak berhak ditawan karena terlalu mulia dari hal itu.
Maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Bagaimana pendapatmu
seandainya anakmu disuruh memilih di antara kita; apakah anda setuju?”.
“Baiklah”, katanya. Kemudian ayahnya
mendatangi Juwairiyyah dan menyuruhnya untuk memilih antara dirinya dengan
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Maka beliau menjawab : ”Aku memilih
Allah dan Rasul-Nya”.
Ibnu Hasyim meriwayatkan bahwa
akhirnya ayah beliau yang bernama al-Harits masuk Islam bersama kedua putranya
dan beberapa orang dari kaumnya.
Ummul Mukminin, Juwairiyyah wafat pada
tahun 50 H. Ada pula yang mengatakan tahun 56 H. Semoga Allah merahmati Ummul
Mukminin, Juwairiyyah karena pernikahannya dengan Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wa sallam membawa berkah dan kebaikan yang menyebabkan kaumnya,
keluarganya dan orang-orang yang dicintainya berpindah dari memalingkan ibadah
untuk selian Allah dan kesyirikan menuju kebebasan dan cahaya Islam beserta
kewibawaannya.
Hal itu merupakan pelajaran bagi
mereka yang bertanya-tanya tentang hikmah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa
sallam beristri lebih dari satu.
5. Ummul Mukminiin Maimunah Binti Al-Harits radhiallaahu 'anha
Ummul Mukminiin
Maimunah Binti Al-Harits radhiallaahu 'anha
Wanita yang menghibahkan dirinya pada Nabi saw
Dialah Maimunah binti al-Harits bin
Huzn bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah
al-Hilaliyah. Saudari dari Ummul Fadhl istri Abbas. Beliau adalah bibi dari
Khalid bin Walid dan juga bibi dari Ibnu Abbas.
Beliau termasuk pemuka kaum wanita
yang masyhur dengan keutamaannya, nasabnya dan kemuliaannya. Pada mulanya
beliau menikah dengan Mas’ud bin Amru ats-Tsaqafi sebelum masuk Islam sebagaimana
beliau. Namun beliau banyak mondar-mandir ke rumah saudaranya Ummul Fadhl
sehingga mendengar sebagian kajian-kajian Islam tentang nasib dari kaum
muslimin yang berhijrah. Sampai kabar tentang Badar dan Uhud yang mana hal itu
menimbulkan bekas yang mendalam dalam dirinya.
Tatkala tersiar berita kemenangan kaum
muslimin pada perang Khaibar, kebetulan ketika itu Maimunah berada didalam
rumah saudara kandungnya yaitu Ummu Fadhl, maka dia juga turut senang dan
sangat bergembira. Namun manakala dia pulang ke rumah suaminya ternyata dia
mendapatkannya dalam keadaan sedih dan berduka cita karena kemenangan kaum
muslimin. Maka hal itu memicu mereka pada pertengkaran yang mengakibatkan
perceraian. Maka beliau keluar dan menetap di rumah al-‘Abbas.
Ketika telah tiba waktu yang telah di
tetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah yang mana Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa
sallam diperbolehkan masuk Mekkah dan tinggal di dalamnya selama tiga hari
untuk menunaikan haji dan orang-orang Quraisy harus membiarkannya. Pada hari itu
kaum muslimin masuk Mekkah dengan rasa aman, mereka mencukur rambut kepalanya
dengan tenang tanpa ada rasa takut. Benarlah janji yang haq dan terdengarlah
suara orang-orang mukmin membahana,”Labbaikallâhumma Labbaika Labbaika Lâ
Syarîka Laka Labbaik…”. Mereka mendatangi Mekkah dalam keadaan tertunda setelah
beberapa waktu bumi Mekkah berada dalam kekuasaan orang-orang musyrik. Maka
debu tanah mengepul di bawah kaki orang-orang musyrik yang dengan segera menuju
bukit-bukit dan gunung-gunung karena mereka tidak kuasa melihat Muhammad dan
para sahabatnya kembali ke Mekkah dengan terang-terangan, kekuatan dan penuh
wibawa. Yang tersisa hanyalah para laki-laki dan wanita yang menyembunyikan
keimanan mereka sedangkan mereka mengimani bahwa pertolongan sudah dekat.
Maimunah adalah salah seorang yang
menyembunyikan keimanannya tersebut. Beliau mendengarkan suara yang keras penuh
keagungan dan kebesaran. Beliau tidak berhenti sebatas menyembunyikan keimanan
akan tetapi beliau ingin agar dapat masuk Islam secara sempurna dengan penuh
Izzah (kewibawaan) yang tulus agar terdengar oleh semua orang tentang
keinginannya untuk masuk Islam. Dan diantara harapannya adalah kelak akan
bernaung di bawah atap Nubuwwah sehingga dia dapat minum pada mata air agar
memenuhi perilakunya yang haus akan aqidah yang istimewa tersebut, yang
akhirnya merubah kehidupan beliau menjadi seorang pemuka bagi generasi yang
akan datang. Dia bersegera menuju saudara kandungnya yakni Ummu fadhl dengan
suaminya ‘Abbas dan diserahkanlah urusan tersebut kepadanya. Tidak ragu
sedikitpun Abbas tentang hal itu bahkan beliau bersegera menemui Nabi
Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan Maimunah untuk Nabi. Akhirnya Nabi
menerimanya dengan mahar 400 dirham. Dalam riwayat lain, bahwa Maimunah adalah seorang
wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka
turunlah ayat dari Allah Tabaraka Ta’ala (artinya) :
“….Dan perempuan mukmin yang
menyerahkan diri kepada Nabi kalau Nabi mengawininya sebagai pengkhususan
bagimu, bukan untuk semua orang mukmin….”( al-Ahzab:
50)
Ketika sudah berlalu tiga hari
sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah, orang-orang
Quraisy mengutus seseorang kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mereka
mengatakan:
”Telah habis waktumu maka keluarlah
dari kami”. Maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan ramah:
“Bagaimana menurut kalian jika kalian
bairkan kami dan aku marayakan pernikahanku ditengah-tengah kalian dan kami
suguhkan makanan untuk kalian???!”
Maka mereka
manjawab dengan kasar: ”Kami tidak butuh makananmu maka keluarlah dari negeri
kami!”.
Sungguh ada rasa keheranan yang
disembunyikan pada diri kaum musyrikin selama tinggalnya Nabi Shallallâhu
‘alaihi wa sallam di Mekkah, yang mana kedatangan beliau meninggalkan kesan
yang mendalam pada banyak jiwa. Sebagai bukti dialah Maimunah binti Harits, dia
tidak cukup hanya menyatakan keislamannya bahkan lebih dari itu beliau
daftarkan dirinya menjadi istri Rasul Shallallâhu ‘alaihi wa sallam sehingga
membangkitkan kemarahan mereka. Untuk berjaga-jaga, Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wa sallam tidak mengadakan walimatul ‘Urs dirinya dengan Maimunah di
Mekkah. Beliau mengizinkan kaum muslimin berjalan menuju Mekkah. Tatkala sampai
disuatu tempat yang disebut ”Sarfan” yang beranjak 10 mil dari Mekkah maka Nabi
Shallallâhu ‘alaihi wa sallam memulai malam pertamanya bersama Maimunah
radhiallaahu 'anha. Hal itu terjadi pada bulan Syawal tahun 7 Hijriyah.
Mujahid berkata:”Dahulu namanya adalah
Bazah namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan
Maimunah. Maka sampailah Maimunah ke Madinah dan menetap di rumah nabawi yang
suci sebagaimana cita-citanya yang mulai, yakni menjadi Ummul Mukminin yang
utama, menunaikan kewajiban sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya,
mendengar dan ta’at, setia serta ikhlas. Setelah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa
sallam menghadap ar-Rafiiqul A’la, Maimunah hidup selama bertahun-tahun hingga
50 tahunan. Semuanya beliau jalani dengan baik dan takwa serta setia kepada
suaminya penghulu anak Adam dan seluruh manusia yakni Muhammad bin Abdullah
Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hingga, karena kesetiaannya kepada suaminya,
beliau berpesan agar dikuburkan di tempat dimana dilaksanakan Walimatul ‘urs
dengan Rasulullah.
‘Atha’ berkata:”Setelah beliau wafat,
saya keluar bersama Ibnu Abbas. Beliau berkata:”Apabila kalian mengangkat
jenazahnya, maka kalian janganlah menggoncang-goncangkan atau
menggoyang-goyangkan”. Beliau juga berkata:”Lemah lembutlah kalian dalam
memperlakukannya karena dia adalah ibumu”.
Berkata ‘Aisyah setelah wafatnya
Maimunah: ”Demi Allah! telah pergi Maimunah, mereka dibiarkan berbuat
sekehendaknya. Adapun, demi Allah! beliau adalah yang paling takwa diantara
kami dan yang paling banyak bersilaturrahim”.
Keselamatan
semoga tercurahkan kepada Maimunah yang mana dengan langkahnya yang penuh
keberanian tatkala masuk Islam secara terang-terangan membuahkan pengaruh yang
besar dalam merubah pandangan hidup orang-orang musyrik dari jahiliyah menuju
dienullah seperti Khalid dan Amru bin ‘Ash radhiallaahu 'anhu dan semoga Allah
meridhai para sahabat seluruhnya.
Langganan:
Komentar (Atom)
Ajine Diri Soko Lati
--------------------------------------------------------------------------------------------------------