Bisikan Iblis
Tanbihun – Malam itu penulis kedatangan
salah seorang sahabat
yang tengah gelisah karena dia merasa berat sekali untuk mengerjakan sholat subuh.
“tolong kasih masukan supaya aku bisa mengerjakan sholat
subuh, Karena ahir-ahir ini aku tidak pernah mampu mengerjakannya..”. keluhnya
“emang kalau malam tidurnya jam berapa..” tanyaku.
“pokoknya kalau belum jam dua belas lewat belum bisa
tidur..”
“ngapain aja..” tanyaku lagi, yang tidak dia jawab.
“Aku lihat artikelmu di tanbihun.com (baca: Ketika Sholat Tak Lagi Terasa Nikmat), tapi aku masih belum
puas kalau tidak bertanya langsung..”.
Setelah selesai menceritakan kegelisahannya,
Aku hanya menjawab “meski orang yang nasehati sampai
mulutnya berbusa, kalau hatimu masih seperti itu nggak akan masuk sobat, karena
sebenarnya kamu sendiripun tahu mesti harus ngapain…”. dia hanya diam.
“coba kamu tidurnya lebih awal lagi…”
“sebenarnya sama, aku juga belum lebih baik darimu..”
imbuhku.
Untuk mengobati kegelisan sahabatku tadi, sengaja penulis
menyusun artikel ini. Dengan tujuan semoga ada manfaat yang bisa
sama-sama kita ambil.
Sahabat, mari kita simak sepuluh
wasiat Rosululloh tentang kiat-kiat mengusir bisikan setan, jin dan manusia
yang menyebabkan kita terasa berat ketika akan mengerjakan amal ta’at berikut
ini:
Pertama, Jika dia membisikkan: “Anakmu akan…”. Jawablah: “Semua akan mati, dan anakku
akan ke surga, aku malah senang.” (karena sudah banyak ahli ibadah yang
menduakan kecintaannya kepada Alloh setelah ia dikaruniai anak. Apalagi yang
bukan ahli ibadah pen.)
Kedua, Jika dia membisikkan: “Hartamu akan
musnah…” Jawablah: “Tak
apalah, pertanggung-jawabanku menjadi ringan.” (inilah jawaban orang yang
tidak hubbuddunnya, sehingga ia akan mudah mengerjakan ibadah karena waktunya
tidak ia gunakan hanya untuk menumpuk-numpuk kakayaan pen.)
Ketiga, Jika dia membisikkan: “Orang-orang
menzalimi dirimu, sedangkan kamu tidak zalim…” Jawablah: “Siksa Allah akan menimpa orang-orang zalim dan
tidak mengenai orang-orang yang baik.” (merupakan tanda kepasrahan dan
tidak pendendam, karena sifat dendam hanya akan membawa pada kebinasaan pen.)
Keempat, Jika dia membisikkan: “Betapa banyak
kebaikanmu…” Jawablah:
“Kejelekanku lebih banyak.” ( untuk menghindari sifat riya’ ujub dan
takabur, kare ketiganya lah yang membuat ibadah tidak ada nilainya dihadapan
Tuhan pen.)
Kelima, Jika dia membisikkan: “Alangkah banyak
shalatmu…” Jawablah:
“Kelalaianku lebih banyak dari pada shalatku.” (Lalai tidak mengingat, bahwa
Allah senantiasa mengawasi dirinya pen.)
Keenam, Jika dia membisikkan: “Betapa banyak
kamu bersedekah kepada orang-orang…” Jawablah:
“Apa yang aku terima Allah jauh lebih banyak dari yang aku sedekahkan.”
(sebagai tanda mensyukuri nikmat pen.)
Ketujuh, Jika dia membisikkan: “Betapa banyak
orang yang menzalimu…” Jawablah:
“Orang-orang yang aku zalimi lebih banyak.” (menandakan bahwa manusia
tidak pernah luput dari dosa haqqul adam pen.)
Kedelapan, Jika dia membisikkan: “Betapa banyak
amalmu…” Jawablah: “Betapa
sering aku bermaksiat.” (merupakan sikap yang tawadlu’ yang tidak suka
membangga-banggakan amal pen.)
Kesembilan, Jika dia membisikkan: “Minumlah
minuman-minuman keras…” Jawablah:
“Aku tidak akan mengerjakan maksiat.” (merupakan benteng mempertahankan
keimanan pen.)
Kesepuluh, Jika dia membisikkan: “Mengapa kamu
tidak mencintai dunia…?” Jawablah: “Aku tidak mencintainya karena
telah banyak orang lain yang tertipu olehnya.” (ingatlah mereka yang
sudah di alam barzakh sedang merapi penyesalan yang sudah tidak mungkin ia
perbaiki pen.)
Saudaraku, sampai kapankah kamu
menunda-nunda amalan? Sampai kapankah kamu menambahkan impian? Sampai kapankah
kamu terperdaya oleh kesempatan yang diberikan? Dan sampai kapankah kamu tidak
mengingat datangnya kematian? Semua hasil usaha kamu hanyalah untuk tanah, apa
yang dibangun semua akan hancur, segala yang kamu kumpulkan akan pergi, dan
seluruh amalan kamu tertulis dalam satu kitab yang
disiapkan untuk hari perhitungan.
Saudaraku, berapa hari kah yang telah
engkau habiskan untuk mengulang-ulangi kata “nanti”, betapa banyak waktu yang
kau sia-siakan dengan melalaikan kewajibanmu, dan betapa banyak telinga yang
sempurna pendengarannya tapi tidak dapat digetarkan oleh peringatan dan
ancaman.
Saudaraku, jika Tuhanmu mengusirmu
dari hadapan-Nya, maka kemanakah engkau akan kembali dan jalan manakah yang
akan engkau tempuh, serta arah mana yang akan engkau tuju? Berbaktilah kepada
Tuhanmu. Mudah-mudahan hal itu akan membuahkan hasil bagimu untuk kembali.
Saudaraku, perjalanan itu telah
ditetapkan untuk kita. Tahun-tahun yang dilalui adalah tempat-tempat
persinggahan, bulan-bulan adalah fase-fasenya, hari-hari adalah jaraknya, dan
napas adalah langkah-langkahnya, maksiat sebagai penyamun, keberuntungan adalah
surga dan kerugian adalah neraka.
Kita diciptakan melalui enam masa
perjalanan sebelum mencapai tempat kedamaian. Pertama, perjalanan dari tanah menuju air mani. Kedua, dari tulang sulbi menuju rahim. Ketiga, dari rahim ke atas dunia. Keempat, dari permukaan bumi ke liang
kubur. Kelima, dari kubur ke
tempat hisab (perhitungan). Keenam,
perjalanan dari tempat hisab menuju ke tempat tinggal abadi (neraka atau
surga). Saat ini kita telah menyelesaikan setengah perjalanan namun yang
tersisa jauh lebih sulit dibanding perjalanan sebelumnya.
(“Lautan Air Mata”/Ibnul Jauzy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar